Apa yang kau pikirkan? Pulang bukan lagi sebuah tujuan. Kalau bertahun-tahun yang lalu, mungkin iya. Tapi sekarang? Bagaimana kau mengatakan kau punya tujuan pulang?
Bertanyalah segera. Bukan hanya pada hari. Jalanan juga akan menjawab setiap tanya yang kau urai. Bukankah kau pernah melaluinya sebagai jalan pulang? Menuju sebuah keluarga yang kau kenali keluarga kesunyian. Diantara malam yang berang, laki-laki pilihan, anak-anak bermimpi bola salju. Bagaimana kau memaknai setiap ingatan?
Tak ada yang datang. Juga tak seorang pun berpikir untuk meninggalkan. Hingga semua menjadi waduk yang saling mengaduk dan memasukkan segala macam bau tak sedap. Busuk? Apa hidungmu cukup lancip untuk menggerogoti isi roti saudara tirimu? Bahkan, meja makan juga menjadi begitu pesing hingga menusuk ke sumsum tulang. Apa yang kau simpan di belakang kemeja putihmu? Kau rindu kaus kaki pacarmu? Ah, mungkin kau menciumnya terlalu dalam. Terlalu malam. Tidakkah nafsumu mengingatkan tentang Tuhan? Kau malah tergoda mengucapkan Salam Maria. Sembarangan!
Pikiran, kau akui, membawamu menjadi jalang. Atau paling tidak memaksamu menjadi sering bertelanjang. Di sabtu petang, kau bahkan tak lagi cukup peduli untuk berteriak senang. Tidak ingat week-end? Bukankah kantormu menerapkan lima hari kerja? O, tentu saja tidak! Kau segalanya dari sebuah perusahaan rumahan. Bisnis on-line? Mana mungkin! Kau saja tidak punya tujuan pulang!
Kau, seringkali beradu dengan api. Tak takutkah kau terbakar nanti? Ingat? Pernah kau begitu cemburu, hingga menautkan jemari-jemari Rexawan dengan korek api. Membiarkannya begitu terus hingga habis hari. Kau pembunuh berdarah api, panas tentunya. Karena kalau kau pembunuh berdarah dingin, kau takkan bermain api.
Kemudian napak tilas. Kau perlu mengembuni kaca-kaca fortuner untuk tahu kalau kau bukan sekedar sedang menari dengan janji. Ataukah berimaji, pesta dansa yang disudahi dengan bersandar wine di ketiak laki-laki bermata biru pucat. Gaun pesta merah jambumu, kabarkan kau tak sedang mencari cinta. Tak sedang menunggu cinta. Ataukah rumah singgah demi tujuan pulang ke kelambu tua? Ah, kau ini sudah mau uzur. Bagaimana kau menjadi begitu kekanakan? Memainkan layang-layang di halaman dengan anak-anak kolong langit, tanpa baju lengan ditengah-tengah rembulan. Memangnya mau dibawa kemana angin setelah kau jaring dengan kenangan? Kau tahu Si hanyalah serupa tahun-tahun di pedalaman, di hutan, di genggaman, di ruang kelas sekolahan dengan cekikikan yang hanya akan membuatmu muntah dan ingin menyiramkan obat pembunuh kuman. Gadis-gadis remaja berkepang dengan obrolan ringan tentang hal-hal tak penting—paling tidak buatmu. Lee Min Hoo. Sepatu highheels dan balero. Mobil sports keluaran terbaru dengan cowok berlabel euro. Berdompet giro. Bermata elang. Membenci alang-alang. Lalu tujuan pulang?
Ibu-ibu di arisan membicarakan tentang anak gadisnya yang pulang dengan cowok berdasi lelawa. Berkendara kereta kuda. Bermahkota permata. Sebuah fatamorgana? Mungkin lebih dari mimpi menjadi puteri dengan dayang-dayang berbandana peri. Bagaimana ini? Sementara di tepi-tepi jalan anak-anak mereka kongkow-kongkow dengan seragam sekolahan putih abu, nge-bakso dari mangkok yang sudah berjuta kali menghadapi muka manusia dengan rasa yang sama. Muak. Rupa-rupa yang sangat jauh dari kata rupawan. Jauh dari bau mobil ber-AC dengan kenyamanan setara hotel bintang lima. Jauh dari ruang restoran bertirai-tirai tiram bambu dengan serbet putih berpewangi sitrus. Pelayan ramah, cantik, dan cekatan dengan seragam putih garis biru seperti pelaut. Menaruh ini-itu dengan tataan yang menimbulkan lapar melilit di dalam mulut hingga membuatmu merasa kenyang seketika. Tapi bill dengan angka panjang selangit hingga kau berpikir itu akan menguras semua uang persediaanmu selama tiga bulan penuh! Lalu tahukah ibu-ibu, membicarakan puteri mereka bukanlah sepantas menghitung berapa untung-rugi dengan berbelanja baju menggunakan kartu kredit bank anu. Penafsiran yang tentu saja hanya ada di sinetron-sinetron dungu hingga kau menjadi begitu percaya bahwa nasib bisa dirubah hanya dengan bermimpi dan duduk melamun dibangku pabrik gincu.
Apakah, pikirmu? Setiap tujuan pulang akan membawa orang-orang pada pilihan yang tak lagi setabu membicarakan kapan kau terakhir kali makan enak dengan uang hasil menipu orang lain, atau kapan kau pertama kali berpikir tentang seks. Lalu tujuan pulang? Mungkin bukan lagi rumah ataupun pondokan dengan cemara bersisir gerimis, menghiasi senyum lelah para peziarah, pejalan-pejalan kaki. Juga bukan kamar apartemen dengan televisi yang garing menunggu sentuhan dari sang majikan. Juga bukan lukisan perempuan Bali dengan belahan dada terbuka. Bukan perempuan renta dengan pai setengah matang di dapur beraroma dinding cengkeh. Bukan remaja cowok dengan kumis menempel di pipi kekanakan.
Tak ada yang pergi. Juga tak seorang pun berpikiran untuk kembali. Seperti halnya perempuan dengan panggilan Nenek Bintang yang menawar hidup untuk delapan puluh tujuh tahun yang akan datang. Dulu, apakah nyalimu berontak dengan bus sekolah yang sering kepagian? Panggilan yang menjadikanmu murka hingga menabur abon melati kembang di piring nasi. Kenapa? Sesuatu menggelitik darahmu. Darah muda yang terkadang begitu bernafsu untuk sebuah pembuktian. Padahal kau tahu penjara takkan pernah ramah apalagi untuk anak berusia belasan tahun. Jangan sinting, pengakuan bukan datang dari rumah yang tak berkasau. Juga bukan datang dari sipir yang mengulurkan sebatang rokok filter hingga kau merasa diterima dan akan baik-baik saja hingga pulang, dengan tujuan pengakuan yang kau mau. Tapi, ah, ini bukan sinema yang menunggu rupiah mengalir ke kantongmu sebagai pengganti jerih payah. Kau harus sadar, tak akan kau temukan jalan menuju pulang kalau kau tetap menjadi cahaya yang jalang, tanpa mata. Karena menawar hidup bukan basa-basi yang menjengukmu dengan telur-telur apel rasa buah. Hingga akhirnya, pilihan hanya tentang bagaimana kau menggunakan hidup untuk tak selalu salah memilih.
Apa yang kau pikirkan? Pulang tetap bukan lagi sebuah tujuan. Seperti roma dengan biskuit yang berumah kelapa. Suluh yang mengabarkan rasa dengan irisan tomat. Dengan bau yang mendiami sekeranjang sanggul-sanggul penari pasar malam, kostum-kostum bernuansa kiwi, berkancing safari. O, sudahlah. Kau tetaplah sebuah jalan yang tak lagi pulang ke tujuan. Lalu kenapa kalau kau lupa tujuan pulang? Bukan. Ini bukan masalah ingatan yang akhirnya membagimu tangisan. Kalau tidak, pulanglah ke rumah Bapa. Mungkin itulah yang kau maksud tujuan pulang.
Phoebe Thadea, menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa dan majalah. Beberapa puisinya juga terangkum dalam buku antologi puisi, seperti Medan Puisi (2007) dan Cahaya (2010).






