ayah! dijauh mata menerjemah rindu
apa kabar? masihkah ayah ingat
aku. menanti risau kembali ayah didekatku (lagi)
menuai harap yang tenggelam terlalu dini
di musim-musim berganti. ayah! tak jua menelusur tiba
seluruh doa telah lelah kuucap. meronai diri dibasah pelupuk mata
ah! tidakkah ayah tahu? segala disini hanya lara semata
juga ibu merapuh diusia menua
dan ladang kita, menangis dikering mendamba peluh, ayah! belai cahaya
karena hujan tak membuatnya memekar diburuk cuaca
ayah! dimana-mana, kenangan-kenangan masih berserak
menyiungi asa
tapi juga tak membawamu kepada kami
dan ladang kita. tak memunah dilemah tubuh ibu
lekaslah menjenguk
agar tak surup tawa di hati sesal meluka sembunyi
ayah! ladang kita menangis
adakah ayah merasa aku mendusta cemas?
jika tidak, melambailah sampai dirinduku melekas
[Phoebe Thadea, menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa dan majalah. Beberapa puisinya juga terangkum dalam buku antologi puisi, seperti Medan Puisi (2007) dan Cahaya (2010).]






