ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Ekonomi

Rupiah Langsung Menguat Usai BI Naikkan Bunga Acuan, Tapi Bisa Tahan Sampai Kapan?

BY El Simamora
Kamis, 18 Juni 2026
in Ekonomi
Kantor Pusat Bank Indonesia.

Kantor Pusat Bank Indonesia. (Ist)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

ODEBA.id, Medan – Dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), Kamis (18/6/2026), suku bunga acuan atau BI Rate kembali dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Belakangan, BI agresif menaikkan bunga acuan ditengah peningkatan tekanan mata uang rupiah. Dan hasilnya, mata uang rupiah langsung berbalik menguat setelah sempat melemah sebelum keputusan menaikkan bunga acuan.

BacaJuga

F&B ID Resmi Boyong Merek Kopi Asal Shanghai ‘M Stand’ ke Indonesia

Bukan Cuma Jobdesk, CMK Ajak Talenta Muda Pahami Cara Kerja Bisnis Secara Utuh

Pasar Global Makin Lirik Batik! Nilai Ekspor Melonjak hingga 32,5%

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan, langkah BI dalam meredam pelemahan rupiah efeknya dalam jangka waktu pendek memang efektif meredam tekanan. “Tetapi tekanan rupiah tidak akan berhenti disitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam waktu yang lebih panjang. Dimana tekanan pada mata uang rupiah pemicu dominannya datang dari sisi eksternal seperti kebijakan moneter Bank Sentral negara lainnya, tensi Geopolitik, serta review lembaga pemeringkat yang berpeluang merugikan pasar keuangan,” katanya.

Sementara dari Tanah Air, ada masalah fiskal yang tengah menjadi isu hangat yang menjadi tuntutan demonstran belakangan ini. Saat BI menaikkan bunga acuan, rupiah merespon dengan penguatan namun bertahan untuk sementara waktu. Yang menjadi persoalan, Bank Sentral negara lain juga melakukan hal yang sama dengan kebijakan yang lebh bernada hawkish.

Disini berarti masing-masing negara melalui kebijakan moneter Bank Sentral-nya saling berlomba menarik likuiditas ke negaranya. Ada persaingan perebutan likuiditas yang membuat imbal hasil surat utang negara masing-masing merangkak naik. Yang berarti BI beserta sejumlah Bank Sentral lain akan berupaya menarik likuiditas dengan memberikan imbal hasil tinggi.

Disaat perebutan likuiditas tersebut terjadi, maka rupiah masih akan sangat dinamis dan tetap terbuka untuk melemah terhadap mata uang lain. Sebagai contoh kenaikan bunga acuan BoJ (Bank Sentral Jepang) tertinggi selama 31 tahun di angka 1%, serta kebijakan The Fed atau Bank Sentral AS yang cenderung ketat. Dan dampak dari kebijakan moneter ketat seperti itu akan berdampak pada kinerja sektor keuangan baik dalam tatanan global maupun nasional.

Dari sisi tensi geopolitik, Iran dan AS sudah menandatangani kesepakatan damai. Meski demikan masih ada ancaman perang yang bisa saja menekan rupiah nantinya. Untuk sementara waktu memang kesepakatan itu akan jadi kabar positif, tetapi tetap berpotensi menjadi ancaman. Sehingga, masih ada ketidakpastian disitu. Selanjutnya ada penilaian lembaga pemeringkat baik untuk pemeringkat saham maupun rating kredit Tanah Air.

Masih ada kemungkinan lembaga pemeringkat dunia akan menyematkan rating atau peringkat yang merugikan stakeholder di tanah air. Terlebih disaat lembaga tersebut menitikberatkan penilaian pada kinerja fiskal maupun kinerja perekonomian di Tanah Air secara menyeluruh.

“Dan disini cakupan evaluasinya sangat luas. Namun saya menilai jika penguatan rupiah hanya mengandalkan kebijakan moneter tanpa dibarengi dengan kebijakan fiskal yang terukur dan berhati-hati (prudent), maka itu tidak akan bertahan lama, dan tentunya amunisi moneter juga terbatas. Jangan sampai kita kehabisan amunisi dalam meredam gejolak ekonomi dan terlambat merespon potensi krisis,” kata Gunawan. (ANG)

Next Post
Komite Disiplin PSSI.

Persik, Persis, hingga Bali United Didenda Ratusan Juta Rupiah Imbas Penyalaan Flare

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba