ODEBA.id, Surabaya – Sektor industri batik di Indonesia terus menunjukkan penguatan ekonomi yang signifikan. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor batik melonjak 32,5% menjadi US$20,14 juta pada 2025, didukung oleh ekosistem yang diperkuat 5.946 industri dan lebih dari 200 sentra batik di 11 provinsi yang menyerap sekitar 47.000 tenaga kerja.
Pertumbuhan industri dan peningkatan kinerja ekspor tersebut menegaskan peran batik yang tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga penopang aktivitas ekonomi dan industri kreatif nasional. Meski demikian, inovasi dinilai tetap menjadi kunci agar keberlanjutan industri batik dapat bertahan lintas generasi.
“Pengembangan batik ke depan perlu memperhatikan keterhubungan antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar,” kata Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia, Syukur Idayati, dalam acara Community Engagement bertajuk “Batik Beyond Tradition: Digital dalam Inovasi, Berkelanjutan, dan Bertahan dalam Tradisi”, di Surabaya, Kamis (1/10/2026).
Idayati menjelaskan bahwa pada 2024 nilai ekspor batik tercatat sebesar US$15,20 juta sebelum naik pesat pada 2025. Sementara pada Semester I-2026, nilai ekspor batik tercatat sebesar US$4,39 juta. Dinamika pasar ini menunjukkan pentingnya pengembangan produk yang terus relevan dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Menurut Idayati, batik dapat terus dikembangkan ke dalam produk busana siap pakai (ready-to-wear), aksesori, hingga produk gaya hidup modern. Pendekatan ini memperluas jangkauan pasar tanpa mengikis nilai budaya tradisionalnya.
Pemanfaatan Teknologi dan Regenerasi
Selain diversifikasi produk, pemanfaatan teknologi digital menjadi elemen penting dalam eksplorasi motif, pengembangan desain, hingga perluasan pemasaran. Di saat yang sama, prinsip keberlanjutan lingkungan dan regenerasi pengrajin juga terus didorong.
Pendiri Rumah Batik Jawa Timur, Syarif Usman, menyampaikan bahwa teknologi digital hadir sebagai alat bantu, bukan pengganti proses utama pembuatan batik tulis. Usaha yang telah berjalan selama tiga generasi ini juga fokus pada regenerasi dengan melatih keterampilan membatik kepada siswa di 700 sekolah dasar di Surabaya, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat.
Langkah serupa dilakukan oleh jenama lokal Ulur Wiji melalui konsep UpliftingWear. Jenama ini memadukan material alami dan kriya tradisional dengan desain kontemporer.
“Kami juga melibatkan perempuan muda di komunitas perdesaan dalam pengembangan keterampilan kriya. Pendekatan ini mempertemukan penguatan kapasitas generasi penerus dengan pengembangan produk fesyen modern berkarakter kriya Indonesia,” kata Pendiri sekaligus COO Ulur Wiji, Nasta Rofika.
Melalui penguatan inovasi, teknologi, dan pelibatan anak muda, Kemenperin optimistis industri batik nasional dapat terus berkembang secara berkelanjutan dan relevan dengan perkembangan zaman. (ANG)






