ibu disini
menyulam kelambu
melapuk bambu
ditepian siku
memilahmilah ruh debu
apa yang bisa ibu kabarkan, merah darah
air susu, rumah sapu, pelacur biru
tidak. nak, kau tersenyum dimulut pintu
mengigiti kuku
disebalik malu
bagaimana ibu berpatah rasa
melupa suka
membuka dada
jangan, nak. jangan kau bangun luka
ibu disini
tentang pilihan
terbakar pujian
disofa, orang-orangan sawah
memuja gelisah
//ayah melamun
dengan salmon sekarung
disetiap kenang
dikulit belang
perempuan bersarung telanjang
demikian jalang
banyak yang ingin ayah kabarkan, kutang renda
televisi hitam warna, kopi jahe, pemabuk ribu
ingat, nak. kau bukan ibu tentang pilihan
menjaring angin
disebalik ingin
begitu ayah sarat sia
bersua koma
berusaha setia
tapi, nak. tapi ayah bukan dewa
//ayah melamun
dengan seikat ranum kamar tidur, bersentuhan
menjenguk lemari
melongok jemari
jangan bilang rumah terlihat lelah
untuk tempat berbagi gelisah
[Phoebe Thadea, menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa dan majalah. Beberapa puisinya juga terangkum dalam buku antologi puisi, seperti Medan Puisi (2007) dan Cahaya (2010).]






