Odeba.id, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Ekonomi Biru: Pengembangan dan Pemanfaatan Potensi Rumput Laut dan Garam” untuk memperkuat peran riset dalam mengembangkan ekonomi biru Indonesia. Acara ini dihadiri oleh lintas sektor, termasuk perwakilan dari kementerian terkait, Pemerintah Daerah, BRIDA, universitas, pengusaha, dan masyarakat adat.
Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, menjelaskan bahwa ekonomi biru diharapkan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) maritim menjadi 15% pada 2045 serta menciptakan 12% lapangan kerja di sektor kemaritiman. Namun, hingga saat ini, kontribusi PDB sektor maritim masih berada pada 7,9% dan kesejahteraan masyarakat pesisir tetap menjadi tantangan besar, terutama di sentra budi daya rumput laut dan garam.
“Produksi rumput laut Indonesia mencapai 9 juta ton secara nasional, namun peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir belum signifikan. Hal ini terjadi karena kendala teknologi tradisional dan tantangan tata niaga yang memengaruhi harga dan kualitas produk,” ujar Hendrian, dikutip dari laman BRIN, Jumat (1/11/2024).
Ia menambahkan, dukungan teknologi sangat penting dalam membantu petani dan pelaku usaha pesisir untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah.
Melalui FGD ini, BRIN mengusulkan pendekatan collaborative governance atau kolaborasi lintas sektor sebagai solusi untuk memperkuat strategi pengembangan dan pengelolaan komoditas kelautan, seperti rumput laut dan garam. Kolaborasi ini mencakup intervensi teknologi, dukungan tata niaga, dan pendekatan sosial-ekonomi budaya untuk membantu masyarakat pesisir keluar dari kemiskinan dan menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Acara FGD ini diharapkan menjadi wadah pertukaran ide untuk menciptakan strategi bersama yang mengedepankan keberlanjutan ekosistem laut sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya kelautan. (ANG)






