ODEBA.id, Medan – Setelah sempat mengalami tekanan di sesi perdagangan pagi, mata uang rupiah melawan tekanan US Dolar yang pada akhirnya membuat rupiah ditutup menguat tipis di level 17.880 per US Dolar. Kinerja mata uang rupiah sempat terpukul hingga ke level 18.000-an per US Dolar. Tekanan eksternal menjadi pemicu utama Rupiah yang sempat melemah di akhir pekan.
Meskipun rupiah terpantau mampu melawan tekanan US Dolar, namun IHSG justru tidak bisa mengikuti pergerakan Rupiah. IHSG ditutup melemah 0.9% di level 6.241,89, setelah sempat menguat ke level 6.328 di sesi perdagangan pagi. Sejumlah emiten yang turut berkontribusi terhadap pelemahan IHSG diantaranya ada ANTM, BUMI, ASII, TINS hingga BBNI.
“Jika berkaca pada dinamika sektor keuangan di AS, maka IHSG dan rupiah masih rawan mengalami tekanan dalam jangka pendek. Tekanan jual obligasi AS berpeluang menciptakan tekanan yang tidak jauh berbeda terhadap pasar obligasi di negara lain tanpa terkecuali Indonesia. Demand akan imbal hasil yang lebih tinggi menuntut kesiapan otoritas moneter maupun kementerian keuangan. Kalibrasi kebijakan dibutuhkan untuk mengamankan sektor keuangan tanah air dari kemungkinan buruk tekanan pasar obligasi global,” kata analis pasar keuangan, Gunawan Benjamin, Jumat (25/9/2026).
Ia menambahkan, perebutan likuiditas untuk mengamankan sektor keuangan negara masing-masing berpeluang dilakukan dengan menaikkan bunga acuan. Sehingga, tren bearish masih berpeluang terjadi selama inflasi masih mendorong investor mengharapkan pendapatan yang lebih besar dari setiap instrumen keuangan yang dperdagangkan.
Disisi lain kinerja harga emas ditransaksikan menguat ke level US$4.304 per troy ons, atau sekitar Rp2,48 juta per gram. (ANG)






