ODEBA.id, Medan – Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke level 7,48% setelah pemerintah menaikkan harga BBM jenis Pertamax sebesar Rp3.950 per liter. Kenaikan yield SBN ini berpotensi mendekati level psikologis 7,6%, yang sekaligus berpeluang menjadi level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Lonjakan yield ini terjadi setelah rupiah sempat menunjukkan penguatan pada perdagangan sebelumnya.
Namun, pada sesi perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah justru kembali tertekan ke posisi 17.960 per US Dolar. Rilis data inflasi tahunan Amerika Serikat (AS) yang tumbuh 4,2% secara tahunan (yoy)—sesuai dengan proyeksi pasar—berpeluang memicu koreksi lanjutan pada mata uang Garuda. Angka inflasi tersebut memperkuat proyeksi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan atau bahkan kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Sejalan dengan pelemahan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka memerah ke level 5.899 pada perdagangan pagi ini. Sejauh ini, IHSG terpantau bergerak fluktuatif di dua zona, mencerminkan volatilitas yang tinggi.
“Pelemahan mayoritas bursa saham di Asia turut menjadi sentimen negatif yang berpotensi menekan pergerakan IHSG hari ini,” kata analis pasar modal, Gunawan Benjamin, Kamis (11/6/2026).
Secara fundamental, kenaikan yield SBN 10 tahun diharapkan dapat menarik masuk likuiditas valas maupun rupiah ke pasar domestik. Hanya saja, momentum saat ini kurang menguntungkan bagi rupiah karena imbal hasil US Treasury untuk tenor yang sama terpantau stabil cenderung naik di level 4,548%. Di sisi lain, USD Index kokoh bertahan di kisaran 99,91, yang secara otomatis menekan mata uang regional termasuk Rupiah.
Sentimen ketatnya kebijakan moneter global ini juga memukul pasar komoditas. Harga emas dunia kembali tertekan ke kisaran US$2.409 per troy ons, atau setara dengan Rp2,37 juta per gram. Tekanan pada harga logam mulia ini didorong oleh kuatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed dalam waktu dekat. (ANG)






