Usai misa aku menunggunya di parkiran. Sesak di dadaku terasa menyiksa. Tanpa bisa kutahan, airmata pun leluasa menggenang di sudut kelopak mataku. Tapi sekuat tenaga aku mencoba untuk menahannya. Aku nggak boleh menangis! Aku harus kuat, batinku dalam menunggu.
Tapi seperti halnya nasibku belakangan ini, mataku pun tidak bisa diajak kompromi. Dan dalam menunggu, aku berusaha keras untuk tidak mengutuki beberapa orang umat yang memandangiku dengan pandangan melecehkan. Cara mereka memandangku membuatku merinding dan hampir terjerembab, menahan emosi dan perasaanku yang sedang labil. Aku hampir membiarkan kepalaku diisi oleh hal-hal buruk yang tidak diijinkan Tuhan.
Ya, Tuhan! Aku bersandar ke mobil dan menangis dalam diam. Diam yang menunggu. Diam yang kelu. Diam yang akhirnya begitu membelenggu dan nyaris membunuhku. Aku merasa kecil. Kerdil dipusaran nasib dan waktu yang kutahu tidak begitu memihakku.
Entahlah… Dalam keterpurukanku kali ini, aku mati-matian meyakinkan hatiku bahwa Tuhan hanya mengujiku. Bahwa Tuhan tidak benar-benar meninggalkanku. Dari perceraian Papa-Mama. Kematian Kanya karena OD. Kehamilanku; dan kini aku kehilangan Orion, ayah biologis anak dalam kandunganku. Semua itu membuatku bahkan tak sanggup berpikir bagaimana caranya harus menyambut setiap kali pagi datang. Aku hanya tahu, aku masih baik-baik saja dan bayi dalam kandunganku juga baik-baik saja.
Cukupkah itu? Aku berulangkali mempertanyakan hal serupa setiap saat. Tapi seperti hari yang begitu panjang dan melelahkan, makin hari aku makin terpuruk dan nyaris tenggelem dalam kubangan kesedihan. Aku merasa tertekan dan tak sanggup menghadapi dunia sendirian.
Hingga ditengah krisis iman dan keinginanku utuk terus melanjutkan hidup, aku bertemu dengan Pastor Moses. Temanku semasa SMP dan sempat menjadi pacarku. Sungguh suatu keajaiban bagiku bertemu dengannya dan merasa lebih ajaib lagi ketika tahu bahwa sekarang ia sudah menjadi seorang pastor. Akh, terkecuali tujuan hidup kami yang sekarang berbeda, dimataku ia tetaplah si anak bengal yang baik hati dan penyayang, seperti waktu kami SMP dulu.
Pada awalnya, aku tahu ada jarak yang terbentang dijeda kehidupan kami. Seperti kini halnya ia hidup untuk Tuhan. Sementara aku tetaplah seorang perempuan yang menasbihkan hidup untuk urusan duniawi.
Demi Tuhan, aku selalu menjaga semuanya itu. Hingga pada suatu hari Minggu, kurang lebih dua bulan yang lalu, aku memeluk Pastor Moses dan menangis didadanya. Sungguh, saat itu aku hanya kalut dan merasa sendirian. Kehamilanku yang semakin membesar membuatku berpikir untuk mati saja. Tapi Pastor Moses menyadarkanku dan mengingatkan aku tentang hakikat hidup. Tentang Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan aku. Pastor Moses juga menenangkanku dari kekwatiranku dituduh macam-macam oleh umat karena memeluk seorang pastor. Katanya, ia sudah seperti seorang Bapa. Jadi siapapun yang datang padanya akan diterima dengan segenap hatinya. Setulus jiwanya.
Sesungguhnya, dengan melihat Pastor Moses saja aku sudah mendapat kekuatan lebih dari yang aku harapkan. Entahlah, aku selalu melihat masa depan dalam dirinya. Masa depan yang tidak akan mematahkan doa dan harapanku. Makanya setiap kali aku merasa patah dan hampir putus asa, aku selalu mencarinya. Dan seperti biasa, Pastor Moses akan selalu menenangkanku. Aku harus mengakui, aku mencintainya seperti Allah Bapa. Seperti Tuhan. Ia membuatku kuat. Ia membuatku tak sekarat. Ia juga membuatku tetap berbentuk meski luluh lantak karena beban yang berat.
Arg, sesekali entah kenapa, aku jadi berpikir untuk ambil bagian dalam pengabdian terakhir pada Tuhan. Aku ingin menjadi biarawati. Aku sering membayangkan aku memakai jubah yang menutupi tubuhku sampai ke mata kaki dan aku akan berada dalam sebuah kehidupan yang khusus. Berjalan meyusuri koridor gelap dengan tangan tersembunyi dibalik jubah serta kepala merunduk. Berdoa sepanjang hari dan belajar berjalan tanpa mengeluarkan bunyi.
Hmm, apakah aku benar-benar terpanggil untuk menjadi biarawati? Tapi bagaimana dengan bayi dalam kandunganku? Bagaimana dengan Orion? Aku tahu aku sudah terlalu kotor untuk ambil bagian dalam pengabdian terakhir pada Tuhan. Mungkin aku memang diciptakan Tuhan hanya untuk menikmati kebahagiaan yang hanya sepotong-sepotong saja. Tidak diijinkan untuk menikmati keabadian meski hanya sepotong kecil saja. Lagipula, itu mungkin bukanlah cara yang paling tepat untuk berterimakasih pada Tuhan karena telah mengirimkan Pastor Moses untuk menolongku. Aku yakin, pasti ada cara lain yang bisa aku lakukan.
Dan dalam menunggu, aku merasa masih terus mengais-ais ingatanku tentang Pastor Moses. Aku…
“Katleen?” Pastor Moses memanggilku.
Aku mendekat kearah Pastor moses, lalu menyalaminya.
“Ada apa, Katleen? Kenapa kamu tidak menunggu di dalam saja?” Pastor Moses menatapku dengan mata Bapanya. Aku menjadi tenang karenanya.
“Aku nggak berani, Pastor,” ujarku perlahan. “Lagipula, aku nggak mau merepotkan,” lanjutku, masih dengan suara pelan.
“Tidak apa-apa. Mari,” Pastor Moses menuntunku ke ruang umat. “Duduklah,” ujarnya, menyilahkan aku duduk.
“Terima kasih, Pastor.”
“Kamu baik-baik saja, kan? Bagaimana kehamilanmu?”
“Nggak terlalu baik, Pastor. Aku,” ada jeda sebentar. Lalu aku melanjutkan, “sudah nggak tahan mendengar omongan orang-orang tentang kehamilanku. Aku belum bisa membuktikan kepada mereka bahwa aku akan menemukan Orion dan memintanya untuk menikahiku. Aku merasa lelah, Pastor.”
Pastor Moses meletakkan tangannya di bahuku. “Berdoa dan berusahalah. Tuhan pasti akan memberikan pertolongan,” ujarnya, begitu menentramkan. “Ingat, Katleen. Kamu harus lebih sabar. Tuhan sedang mengujimu.”
‘Tapi bagaimana kalau aku nggak menemukan Orion, Pastor?” tanyaku, terdengar begitu ragu.
“Jangan berhenti berdoa. Mintalah, pasti Tuhan akan memberikannya.”
“Aku ragu aku bisa bertahan, Pastor,” ujarku, terdengar begitu skeptis.
“Kamu harus percaya. Apapun yang kamu lakukan, kamu harus percaya bahwa Tuhan akan senantiasa ada dan akan menolongmu. Jangan pernah tidak percaya, itu yang harus kamu percayai.”
“Terimakasih, Pastor. Tolong doakan aku supaya lebih kuat dan sabar. Aku harus bertahan untuk anakku.”
Pastor Moses mengangguk. Selalu begitu, aku selalu merasa lebih baik setelahnya.
Aku berpamitan. Disetiap persimpangan jalan yang kulewati, aku menanggalkan satu persatu kesedihanku. Aku harus bangkit. Aku tidak mau mengecewakan Pastor Moses, malaikat yang telah dikirimkan Tuhan untukku. Aku harus menemukan Orion.
Phoebe Thadea, menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa dan majalah. Beberapa puisinya juga terangkum dalam buku antologi puisi, seperti Medan Puisi (2007) dan Cahaya (2010).






