ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Sua Odeba Cerpen

Kepergian Mama

Oleh Phoebe Thadea

BY El Simamora
Selasa, 12 Maret 2024
in Cerpen
Ilustrasi.
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

“Mama masuk rumah sakit, Lene.” Suara Rafa diujung telepon seketika menciutkan hati Arlene. Tergesa dia duduk di bangku sebelah meja telepon sebelum tubuhnya ambruk ke lantai.

“Sakit apa, Kak?” tanyanya. Meskipun sebenarnya, tanpa Rafa kasih tahu pun Arlene sudah tahu Mama sakit apa. Mama memang mengalami penyempitan di jantungnya.

BacaJuga

Pastor Moses

Arlene ingat, Mama pernah berkelakar tentang penyakitnya itu. “Mama ini seperti pesawat yang delayed, Lene. Hanya nunggu waktu berangkatnya aja.” Demi Tuhan, surga dan bumi beserta isinya, Arlene tidak ingin percaya itu. Apapun yang dikatakan Mama, Arlene yakin Mama hanya ingin mengujinya. Dan sekarang, apakah Mama delayed lagi atau sudah waktunya Mama berangkat? Kalau bukan karena Papa, Mama tidak akan seperti ini. Mama tidak akan terbaring sakit.

“Jantung Mama, Lene.” Suara Rafa terdengar semakin serak. Arlene yakin, Rafa pasti sedang berjuang untuk tidak menangis. Rafa pasti tidak mau membuat Arlene semakin cemas.

“Apa itu karena Papa?” Arlene tidak tahan juga untuk tidak menanyakan itu. Apapun, semua ini pasti karena ulah Papa, umpat Arlene dalam hati.

“Jangan menyalahkan Papa, Lene. Apapun yang udah terjadi, kita nggak boleh semakin memberatkan Papa dengan terus-menerus menyalahkan Papa. Papa nggak seburuk itu, Arlene. Papa…”

“Papa yang membuat Mama masuk rumah sakit!” potong Arlene setengah berteriak. “Papa jahat!”

“Ya Tuhan! Arlene? Kakak mohon, kamu jangan ngomong seperti itu. Papa nggak jahat. Papa hanya nggak punya pilihan. Papa hanya korban dari kepentingan orang-orang yang nggak bertanggung jawab.” Rafa berusaha memberi pengertian pada Arlene. Meski sesungguhnya, dia sendiri pun tidak bisa menemukan suatu alasan apapun untuk membenarkan tindakan Papa. Tapi paling tidak dia sudah berusaha untuk menerima semuanya. Karena itulah dia selalu berusaha untuk memberi pengertian pada adiknya. “Oke, sekarang Kakak nggak mau berdebat lagi tentang itu. Kakak hanya mau kamu pulang. Kakak mohon, Lene. Kakak takut, Mama nggak punya waktu banyak lagi.” Rafa menurunkan volume suaranya. Mungkin takut terdengar oleh Mama. “Kakak mohon, Lene.” Itu kalimat terakhir Rafa sebelum menutup telepon.

•

Dalam perjalanan menuju Jakarta, Arlene mengingat bagaimana beratnya beban Mama dua tahun belakangan ini. Semuanya berawal dari tertangkapnya Papa oleh KPK. Tuduhan koruptor menjadi bola panas yang menyeret Papa ke penjara. Belum dua bulan Papa di penjara, Papa sakit hingga akhirnya meninggal.

Arlene menggeram. Bahkan pada saat Papa sudah meninggal pun, Papa tetap gading retak yang mendatangkan masalah demi masalah. KPK menyita semua asset keluarga. Dari rumah, mobil, showroom, bahkan sampai peternakan milik keluarga besar Mama. Belum lagi aset lain yang harus terjual untuk membayar hutang Papa yang bagaimana menumpuk di mana-mana. Ada lagi julukan keluarga koruptor yang harus diterima keluarga besarnya. Arlene tidak kuat menerima itu semua. Karena itu, setelah SMA-nya selesai setahun yang lalu Arlene pindah ke Lombok dan meneruskan kuliah di sana.

Arlene memang tidak bisa menjamin orang-orang tidak akan mengenalinya di sana. Tapi pasti akan lebih berat tinggal di Jakarta dengan orang-orang yang akan selalu mengenalnya dan mengingatnya sebagai anak seorang koruptor. Arlene tahu, kepergiannya juga yang membuat beban Mama semakin berat. Setiapkali Mama meneleponnya, Mama akan memintanya pulang. Tapi tidak! Kebencian Arlene pada Papa telah membulatkan tekadnya untuk tidak akan pernah pulang ke Jakarta. Tidak akan pernah. Semuanya masih terlalu menyakitkan baginya.

“Pulanglah, Nak. Mama kangen.” Itu rengekan Mama sebulan yang lalu. Tepat saat ulang tahun Mama. Mungkin Mama berpikir, momen seperti ulang tahun akan membuat pikiran Arlene berubah tentang kata pulang. Tapi Arlene langsung mengatakan tidak, yang membuat suara Mama terdengar begitu sedih dan kecewa. “Papa itu nggak sejahat yang kami pikirkan, Sayang. Papa benar-benar mencintaimu. Papa sayang sama kamu. Kalaupun Papa menyakitimu, semua itu diluar kemauan Papa.”

Sayang? Arlene hampir meludah mengingat ucapan Mama. Sayang yang seperti apa? Mengorbankan keluarga demi kepentingan yang hanya penting untuk dirinya sendiri? Itukah yang dinamakan sayang? Argh, Mama itu terlalu cinta sama Papa. Lihat saja, Mama sepeninggal Papa bahkan terlihat sudah seperti mayat hidup. Meski selalu kelihatan tegar, tapi mata Mama tidak pernah bisa membohonginya. Mama terlihat begitu terbebani dengan penilaian semua orang tentang Papa. Mama terlihat begitu menyedihkan dengan ingatan buruk semua orang mengenai Papa. Lalu, masihkan Mama harus memaksakannya untuk tidak membenci Papa? Untuk tidak selalu menyalahkan Papa? Siapa yang bisa melarang untuk membenci seseorang yang sudah meninggal? Tidak ada, kan? Dan itulah yang Arlene lakukan. Membenci Papa. Dan dia akan membenci Papa seumur hidupnya!

Arlene masih tetap membiarkan pikirannya diisi ingatan ‘buruk’ oleh Papa pada saat pesawat landing di Soekarno-Hatta. Cuaca cerah yang tadi menaungi Bali sangat bertolak belakang dengan langit Cengkareng. Kabut dimana-mana. Gelap. Pekat. Hujan pasti akan turun sebentar lagi. Oo, Mama… Pertanda apakah ini? Arlene menggeleng. Dengan tergesa, setelah selesai mengambil travel-bag di boarding-pass bandara, dia bergegas mencari taksi yang akan membawanya ke rumah sakit.

“Ya, Kak Rafa?” Arlene menekan tombol yes pada layar handphone-nya. Getaran handphone di saku jeansnya membuat ketergesaannya mereda.

“Kamu udah dimana, Lene? Mama kritis.” Suara Rafa yang setengah menangis seakan meruntuhkan langit diatas kepala Arlene. Seketika langkahnya terhenti.

“Udah on the way ke rumah sakit, Kak. Mama?” Hati Arlene bergetar. Sakit. Takut.

“Dokter masih berjuang untuk menolong Mama. Selain itu, dokter hanya mengatakan berdoa sajalah. Kita serahkan semuanya pada Tuhan.”

•

Begitu sampai di rumah sakit, Arlene langsung berlari menuju ICU. Rafa yang melihatnya langsung berlari menyongsong dan memeluknya.

“Gimana keadaan Mama, Kak?” Arlene menatap Rafa, setelah melepaskan pelukannya. Berbagai bayangan buruk melintas dipikirannya.

Rafa menggeleng. Arlene shock melihat gelengan Rafa. “Kak, Mama…” Arlene tidak mampu melanjutkan ucapannya.

“Mama masih hidup, Lene. Tapi kemungkinan untuk bertahan sangat kecil. Mama…” Belum selesai kalimat Rafa, Arlene sudah berlari masuk ke ruang ICU. Rafa sontak berlari mengikutinya dari belakang.

Di dalam ruangan yang serba putih itu, Arlene melihat sosok Mama yang terbaring tidak berdaya dengan mata terpejam. Arlene berdiri terpaku di sisi tempat tidur. Mama kelihatan kurus. Wajahnya pucat. Perlahan Arlene duduk di bangku dekat tempat tidur. “Mama,” bisiknya pelan. Pelaaan sekali.

Mama membuka matanya. Menatap Arlene lembut. “Sayang, kamu datang?”

“Iya, Ma.” Arlene memeluk Mama dengan hati-hati, takut merusak selang-selang yang melilit tubuh mama. Sekuat tenaga Arlene berusaha untuk tidak menangis. Tapi tiba-tiba, tanpa diduganya, airmatanya jatuh tepat di lengan Mama. “Jangan menangis, Anak Manis.” Mama mencium tangan Arlene, kemudian mendekatkannya ke pipinya.

“Arlene nggak nangis, Ma. Arlene kan anak Mama yang paling kuat.” Arlene menyeka airmatanya. Meskipun dia tidak tahu apakah semunya akan baik-baik saja setelah dia benar-benar kehilangan Mama. Sungguh, hanya Tuhan yang tahu.

“Ya, kamu memang anak Mama yang paling kuat. Kamu juga anak Mama yang tegar dan selalu percaya pada harapan.” Lalu Mama melambai ke arah Rafa, menyuruhnya mendekat. “Rafa, Arlene, waktu Mama mungkin nggak banyak lagi. Mama udah sangat lemah. Rasanya Mama ingin berhenti bernapas.”

“Jangan bicara seperti itu, Ma.” Rafa menggeleng sedih. “Takdir manusia ditentukan oleh Tuhan.”

“Mama tau. Tapi Mama akan sangat sedih bila ingat nggak seorang pun mampu merubah takdirNya.”

Arlene mulai menangis. Semakin lama, tangisnya semakin kuat. Dia ingin dunia tahu, dia mati merasa. Ataukah merasa mati. Rasanya sama saja.

“Rafa, Arlene,” Mama menatap mereka bergantian. “Kalau memang waktu Mama nggak banyak lagi, Mama ingin sepeninggal Mama nanti kalian berdua tetap saling menjaga dan menyayangi. Mama mencintai kalian berdua. Mama sayang kalian berdua. Mama berharap semoga kalian berdua menjadi orang yang beguna dan selalu ingat sama Tuhan.”

“Mama!” seru Arlene tanpa sadar. Ia benar-benar merasa mati. Bukan lagi mati merasa. Rasanya tidak lagi sama.

“Mama juga memohon, terutama sama kamu, Arlene. Tolong jangan membenci Papa. Papa udah mempertanggungjawabkan semua perbuatannya pada Tuhan. Mama mohon, jangan hukum Papa lagi dengan terus-terusan membenci Papa. Biar gimana pun, Papa itu tetaplah Papa kalian. Mama mohon.”

Arlene memeluk Mama, lalu mengangguk kuat-kuat. “Terima kasih, Sayang. Mama senang sekali. Mama akan menyampaikan itu nanti pada Papa. Papa pasti akan gembira mendengarnya.” Suara Mama semakin melemah.

Arlene memeluk Mama lebih erat lagi. Lama. Lamaaa sekali. Dan dia tetap memeluk Mama ketika lengan Mama terkulai di tepi tempat tidur. Arlene tahu, dia telah kehilangan Mama. Mama telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Untuk beberapa saat, Arlene hanya bisa memandangi Mama dalam diam. Diam yang sakit. Diam yang sekarat. Ya, Tuhan. Arlene bahkan tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Padahal dia ingin merasakan sesuatu, apapun.

Kemudian, dalam waktu yang panjang dan begitu lengang, di antara suara tangisan Rafa, Arlene menangis dan berteriak sekuat-kuatnya.

Epilog

Arlene meletakkan seikat Mawar putih di atas nisan Mama. “Selamat jalan, Ma,” bisiknya dalam diam yang khusuk. “Arlene janji, mulai hari ini Arlene akan berdamai dengan masa lalu, Ma. Dengan rasa benci Arlene pada Papa. Arlene pasti bisa, Ma. Karena sesungguhnya nggak ada yang bisa Arlene lakukan. Nggak juga berlari darinya. Arlene harus berdamai dengannya dan melupakan segala kepahitan dan kesedihan Arlene. Meninggalkannya jauh-jauh di belakang.”

Kemudian Arlene berdiri dan meninggalkan makam Mama dalam senyuman.

Phoebe Thadea, menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa dan majalah. Beberapa puisinya juga terangkum dalam buku antologi puisi, seperti Medan Puisi (2007) dan Cahaya (2010).

Next Post
Ilustrasi THR Ramadan Bersama Blibli

THR Ramadan Bersama Blibli: Apa Saja Kemeriahan dan Keberkahannya?

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba