Selama libur panjang Idulfitri, pasar keuangan di Tanah Air memang tengah memasuki musim liburan. Namun dari hasil pemantauan kinerja pasar keuangan di luar, mata uang rupiah terlihat mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan angkanya berada di level 16.000. Begitupun, harga tersebut belum mencerminkan sisi permintaan dan persediaan atau transaksi yang terjadi di pasar uang Tanah Air. Karena pasar keuangan masih libur.
Jadi harga 16.000 itu masih mengindikasikan bahwa ada potensi rupiah bisa melemah. Akan tetapi bisa saja nantinya rupiah justru bergerak dibawahnya, atau justru berada di bawah tekanan dolar AS. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya, telah mendorong peningkatan imbal hasil US Treasury 10 tahun di atas 4,5%.
Dimana inflasi inti AS kembali naik menjadi 3,8% di bulan Maret (yoy), atau lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya di level 3,7%. Sementara itu, laju tekanan inflasi secara keseluruhan naik menjadi 3,5% yoy, lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya 3,4%. Laju tekanan inflasi AS masih dibawah harapan Bank Sentral, ditambah lagi dengan sektor ketenagakerjaan AS yang justru membaik belakangan ini.
Ditambah lagi The Fed atau Bank Sentral AS sejauh ini membutuhkan laju inflasi yang benar-benar menuju ke angka 2%. Namun realisasi inflasi AS di pekan kemarin menunjukan bahwa The Fed belum sepenuhnya mendapatkan sinyal penurunan inflasi yang ditunggu. The Fed kian jauh dari kemungkinan pemangkasan bunga acuan dalam waktu dekat.
Sementara itu, kinerja mata uang rupiah yang melemah sangat berpeluang memberikan tekanan pada sejumlah komoditas energi dan pangan yang menjadi kebutuhan di Tanah Air. Di situasi ini memang tidak menguntungkan, meksipun juga yakin Pemerintah akan melakukan upaya maksimal untuk memperbaiki keadaan. Meskipun bukan perkara mudah karena stabilisasi mata uang rupiah juga membutuhkan partisipasi negara mitra dagang Tanah Air dalam menyerap komoditas ekspor.
Memburuknya kinerja ekonomi di negara mitra dagang RI telah membuat surplus neraca dagang RI menyusut. Ditambah lagi ekspektasi pemangkasan bunga acuan menjadi sangat tidak jelas belakangan ini seiring dengan realisasi inflasi yang tak kunjung bergerak sesuai ekspektasi. Jika rupiah melemah dalam waktu yang lama, pelemahan tersebut akan menyeret kenaikan harga kebutuhan pangan, potensi kenaikan tarif listrik hingga penyesuaian kebijakan subsidi BBM maupun gas lainnya.
Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi dan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumatra Utara. Saat ini juga aktif mengajar di Fakultas Ekonomi UISU.






