ODEBA.id, Medan – Menutup perdagangan akhir pekan, IHSG menguat tipis 0,2% di level 5.924,36. IHSG sempat tertekan hingga ke level 5.887 di sesi perdagangan kedua. Kinerja IHSG menguat di detik-detik terakhir, setelah dominan berada di zona merah selama sesi perdagangan kedua. IHSG yang menguat tidak jauh berbeda dibandingkan dengan kinerja bursa di Asia yang kebanyakan parkir di zona hijau pada perdagangan akhir pekan.
Investor asing terpantau melakukan posisi beli bersih terhadap sejumlah emiten seperti ADRO, ELSA, BRMS, TINS hingga INDF. Namun disisi lain investor asing masih membukukan posisi jual bersih di akhir pekan terhadap sejumlah emiten seperti BBCA, BBRI, TLKM, DEWA hingga TPIA.
Disisi lain mata uang rupiah ditutup menguat di level 18.045 per US Dolar. Kinerja mata uang rupiah bergerak sideways dengan kecenderungan menguat selama sesi perdagangan berlangsung. “US Dolar tengah mengalami tekanan disaat ketegangan di selat hormuz mereda. Kondisi ini dimanfaatkan oleh banyak mata uang di Asia untuk menguat terhadap US Dolar,” kata analis pasar keuangan, Gunawan Benjamin, Jumat (10/7/2026).
Sejumlah mata uang di Asia yang turut menguat terhadap US Dolar diantaranya ada Bath Thailand, Yuan China, Rupee India dan Dolar Singapura. Meski demikian penguatan Rupiah pada akhir pekan masih menempatkan posisi rupiah di atas level 18.000. Kinerja pasar keuangan dalam sepekan terakhir terlihat rapuh saat diterpa sentimen negatif eksternal.
Sementara itu, seiring dengan rencana negosiasi damai antara Iran dan AS yang akan berlanjut. Harga emas dunia ditransaksikan melemah terbatas di level US$4.105 per troy ons, atau sekitar Rp2,39 juta per gram. Harga emas masih berkonsolidasi hingga ada sebtimen fundamental yang menggerakknnya.
“Sejauh ini harga emas terpantau bergerak sideways ditengah minimnya sentimen ekonomi,” kata Gunawan. (ANG)






