Odeba.id, Medan – Nama T.D. Pardede mungkin asing di telinga sebagian orang, tapi juga akrab untuk yang lainnya. Salah satu ikon di Kota Medan yang melekat dengan T.D. Pardede adalah Hotel Danau Toba Internasional Medan. Dan pada 16 Oktober lalu, hotel ini merayakan ulang tahun ke-16 yang juga merupakan hari lahir T.D. Pardede. Di hari istimewa itu, keluarga besar dan Hotel Danau Toba Internasional Medan mempersembahkan Birthday Anniversary yang bertajuk “In Memoriam TD Pardede 108th”.
Nah, untuk mengenang kembali T.D, Pardede, berikut biografi dari Tokoh Nasional asal Sumatra Utara ini!
Tumpal Dorianus Pardede lahir di Balige 16 Oktober 1916. Setelah ayahnya meninggal pada di saat usianya masih 5 tahun, T.D. Pardede kecil mulai masuk sekolah pada usia 7 tahun di Hollandsch Inlandsch School (HIS), sekolah dasar anak anak pribumi di Balige. Sejak kecil ia berpenampilan bersih dan rapih. la dikenal anak yang tidak pelit, suka membantu teman dan suka bergaul. Ibundanya yang berdagang di pasar, menjadikan T.D. Pardede kecil akrab dengan kehidupan jual beli dan dunia pasar.
Sang Ibunda dan ipar tertuanya mendukung bakat dagang T.D. Pardede kecil dengan syarat dari Ibunda, yakni “3 pelajaran sebagai bekal hidupnya”. Pertama di sekolah menuntut ilmu, kedua: di gereja/sekolah minggu mendapatkan pelajaran agama dan ketiga di pasar mulai belajar berdagang. Begitulah masa kecil T.D. Pardede yang mengawali hidupnya berbekal falsafah kehidupan yang kelak dipegang erat oleh dirinya hingga akhir hayat.
Tumpal Dorianus Pardede yang sudah beranjak remaja, mulai berkecimpung di dunia pasar Balige dan sekitarnya secara kecil-kecilan. Dalam benaknya, kenapa orang-orang Tionghoa bisa sukses dalam dunia dagang di tanah kelahirannya itu? Apakah anak asli daerah tidak sanggup ataukah Belanda memberi fasilitas khusus kepada mereka? Hal inilah yang kelak menjadi pemicu semangat T.D. Pardede remaja untuk meraih cita-cita sekaligus membuktikan bahwa anak daerah juga bisa sukses.
Setelah ditempa beberapa tahun sebagai pedagang di pasar dan desa-desa sekitar Balige, T.D. Pardede remaja tumbuh menjadi seorang pedagang yang tangguh dan disukai oleh warga terutama para konsumennya. Ini berkat ajaran yang ia pegang teguh semasa kecil dan taat pada pesan ibundanya. Di masa remaja inilah, T.D. Pardede belajar kehidupan yang sebenarnya; mulai dari belajar kepemimpinan, berwirausaha dan bekerjasama dengan semua kalangan, yang kelak menjadi bekal masa depan ketika dewasa nanti.
Di tahun 1937, T.D. Pardede menikah dengan Hermania Napitupulu saat gadis itu masih berusia 18 tahun, dan usia Pardede 21 tahun. T.D. Pardede muda adalah sosok laki-laki, ayah dan suami yang pantang menyerah dan memegang kuat prinsip yang ia yakini. Di masa kolonial Belanda ini, ia mengawali karir sebagai buruh kasar di perkebunan Belanda di Dolok Ilir, Simalungun. Berawal dari buruh lepas harian, naik tingkat menjadi juru tulis dan dipercaya oleh juragan Belanda untuk mengurus perkumpulan sepakbola dan pasar malam.
Tahun 1942 di masa Pendudukan Jepang, T.D. Pardede muda kembali ke Balige dan beralih profesi menjadi pedagang keliling dan menjual gula batak dan garam. Tidak sampai disitu, usaha yang ia tekuni ini, ia mengembangkan usahanya dengan membuka kedai, berdagang kain, berjualan hasil bumi hingga menjadi pedagang gula Batak untuk daerah Tapanuli.
Pada tahun 1980, Pardede kemudian berekspansi ke bisnis perhotelan dan perikanan. Di bawah naungan T.D. Pardede Holding Company, dia memiliki 28 unit badan usaha, dan 5.000 orang staf.
T.D. Pardede juga ikut mendirikan klub Pardedetex, Harimau Tapanuli, dan PSMS Medan. Dia pernah menjadi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia pada era tahun 1980-an dengan taksiran kekayaan mencapai Rp550 miliar. Pardedetex sendiri merupakan salah satu klub sepak bola yang disegani pada era itu. Pardede merekrut sejumlah bintang timnas era 1970-an, seperti Iswadi Idris, Sucipto Suntoro, Abdul Kadir, dan M. Basri. Sayangnya, lantaran kecewa dengan kondisi persepakbolaan Indonesia yang penuh suap dan “main sabun”, pada awal dekade 1980-an Pardedetex dibubarkan dan mundur dari kompetisi Galatama.
Pardede juga membangun sebuah rumah sakit yang diberi nama Herna. Dia juga membangun Universitas bernama Darma Agung. Di tahun 1964 Pardede diberi gelar ahli tekstil dari ikatan pengusaha tekstil Indonesia. Di tahun 1965 dia mendapatkan gelar kehormatan ilmu ekonomi dari Universitas Sumatera Utara, dan di tahun 1967 Pardede mendapatkan gelar doktor ilmu ekonomi dari Universitas Takushoku, Jepang. (EL)






