Ditengah tekanan kenaikan harga sejumlah kebutuhan hidup, antusiasme masyarakat merayakan Lebaran memang masih tinggi. Namun masyarakat disarankan agar tidak berbelanja diluar batas kemampuannya. Artinya untuk memenuhi kebutuhan Lebaran tahun ini, masyarakat harus sampai meminjam uang atau bahkan terjerat hutang rentenir. Terlebih dibulan Mei dan Juni ada peningkatan kebutuhan yang besar untuk pendidikan.
Mulai dari ujian kenaikan kelas, pergantian tahun ajaran baru, Iduladha dan juga libur kenaikan kelas. Skala prioritas pengeluaran yang lebih penting ada di bulan selanjutnya. Nah, THR ini menjadi salah satu pendorong pengeluaran yang meningkat jelang Idulfitri. Dan pada umumnya akan digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya konsumtif selama Lebaran.
Karena itu, masyarakat sangat disarankan agar bisa lebih bijak dengan menggunakan THR yang ada. Terlebih lagi ada banyak kebutuhan besar yang akan dikluarkan setelah Lebaran. Sementara itu, dari pantauan di sejumlah pasar tradisional penjual kebutuhan sandang di Kota Medan, sejumlah pedagang grosiran masih mengeluhkan menurunnya belanja masyarakat di Lebaran tahun ini.
Dari beberapa pedagang yang diobservasi setiap tahunnya, beberapa diantaranya menyatakan bahwa belanja sandang anjlok 10% hingga 15%, namun yang paling berat ada juga mengklaim bahwa penjualan turun hingga 30%. Meski demikian dari sejumlah responden yang letaknya jauh dari ibu kota provinsi (Medan), menyatakan bahwa penjualan jelang lebaran tahun ini lebih baik selama 4 tahun belakangan.
Meskipun di hari normal, penjualannya tetap mengalami penurunan sekitar 10% hingga 15% dibandingkan dengan periode yang sama (Januari-Februari) tahun sebelumnya. Namun pedagang pengecer kebutuhan sandang sepakat bahwa guyuran uang dalam bentuk bantuan tunai, seperti Bansos dan uang bantuan yang didapat selama pagelaran Pemilu mampu mendongkrak penjualan meskipun sesaat.
Secara keseluruhan mpedagang grosir dan pengecer masih mengeluhkan kondisi penjualan yang belum membaik khususnya setelah pandemi Covid-19. Bahkan sejumlah responden berujar penjualan saat Covid-19 masih lebih baik dibandingkan dengan penjualan di masa pandemi telah berakhir. Dan kejutan uang segar yang mengalir ke masyarakat baik dalam bantuan tunai serta gelontoran dana segar lainnya.
Kenapa menyebutnya sebagai kejutan uang? Karena hanya uang yang datang secara tidak terduga yang bisa membuat masyarakat berbelanja kebutuhan sandang. Karena untuk memenuhi kebutuhan pokok, umumnya masyarakat sudah melakukan perencanaan pengeluaran serta menyesuaikan sumber pendapatannya.
Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi dan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumatra Utara. Saat ini juga aktif mengajar di Fakultas Ekonomi UISU.






