ODEBA.id, Medan – Mata uang rupiah tidak hanya melemah terhadap US Dolar yang sudah berada di atas 18.000, disisi lain pelemahan rupiah juga terjadi terhadap mata uang di Asia seperti Dolar Singapura (SGD). Tren pelemahan rupiah terhadap SGD sebenarnya sudah terjadi dalam satu tahun terakhir.
Namun kenaikan yang paling signifikan itu terlihat sejak bulan Maret hingga saat ini. Dimana pada bulan Maret, rupiah sempat ditransaksikan di kisaran level 13.127/SGD, dan sejauh ini konsisten naik dan ditransaksikan di kisaran level 14.058/SGD.
“Jika berbicara fundamental, maka pelemahan mata uang rupiah terhadap SGD itu transmisinya datang dari perdagangan antara kedua negara. Semakin besar ketergantungan impor terhadap Singapura, maka rupiah akan realtif melemah terhadap Dolar Singapura. Itupun kalau transaksi antar kedua negara difasilitasi dengan mata uang lokal masing-masing. Namun jika tidak maka penggunaan US Dolar umumnya dijadikan sebagai alat transaksi bagi Singapura dan Indonesia,” kata pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Minggu (7/6/2026).
Dia menambahkan, jika berbicara perdagangan antar kedua negara, maka Indonesia kerap mencatatkan defisit transaksi dengan Singapura. Hal ini terjadi karena tingginya permintaan Impor produk bahan bakar minyak yang dihasilkan Singapura. Sehingga tekanan terhadap mata uang Rupiah wajar terjadi selama ada demand terhadap mata uang Dolar Singapura itu sendiri.
Disisi lain kerap terjadi permintaan mata uang SGD untuk keperluan investasi maupun spekulasi. Disaat mata uang rupiah memgalami tekanan terhadap US Dolar, ini juga kerap dimanfaatkan untuk membeli mata uang asing lainnya khususnya SGD. Jadi selain karena transaksi perdagangan yang membentuk nilai rupiah terhadap SGD, disisi lain ada transaksi lain yang menjadikan SGD sebagai instrumen lindung nilai atau bahkan spekulasi.
“Saya menduga pelemahan rupiah terhadap SGD sejak maret hingga saat ini juga didorong oleh pola transaksi seperti itu. Bisa dilakukan dengan membeli fisik (banknotes) secara langsung, ataupun dilakukan melalui media transaksi di pasar keuangan, termasuk transaksi lewat platform perdagangan berjangka. Sehingga pelemahan rupiah terhadap SGD ini tidak sepenuhnya mencerminkan perdagangan dari kedua negara. Namun terkadang bisa mencerminkan resiko yang muncul karena rupiah dianggap belum ditopang oleh faktro fundamental yang kuat, sehingga membuka ruang pelemahan rupiah itu sendiri,” kata Gunawan. (ANG)






