ODEBA.id, Medan – Laju tekanan inflasi China baik secara tahunan maupun secara bulanan membukukan angka yang lebih tinggi dibandingkan satu bulan sebelumnya. Di bulan September, China membukukan kenaikan inflasi sebesar 0,9% secara yoy, lebih tinggi dari posisi sebelumnya sebesar 0,8%. Data tersebut menunjukan bahwa China tengah mengalami lonjakan inflasi ditengah kenaikan harga energi dunia belakangan ini.
Bursa saham di China merespon kenaikan inflasi tersebut dengan ditransaksikan di zona merah pada sesi perdagangan pagi ini. Dan secara keseluruhan mayoritas bursa saham di Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. IHSG pada sesi pembukaan perdagangan dibuka menguat ke level 5.940, namun sejauh ini kembali masuk dizona merah. IHSG masih berpeluang untuk terkoreksi dan kembali mencoba level psikologis 5.900.
Ditengah banyaknya sentimen negatif eksternal pada perdagangan hari ini, IHSG diproyeksikan akan kesulitan untuk bertahan di zona hijau. IHSG diproyeksikan akan berada dalam rentang 5.870 hingga 5.980 selama sesi perdagangan berlangsung.
Disisi lainnya, upiah juga ditransaksikan melemah ke level 17.915 per US Dolar dan sempat menyentuh 17.930 di sesi perdagangan pagi.
Namun rupiah punya peluang untuk berbalik arah dan menguat terhadap US Dolar, karena USD Index alami penurunan tipis ke kisaran 102.1, dan imbal hasil US Treasury 10 tahun turun tipis dikisaran 5.21%.
“Meski demikian pelaku, pasar harus mewaspadai kemungkinan tekanan yang lebih besar terhadap kinerja sektor keuangan jelang rilis data inflasi AS,” kata analis pasar keuangan, Gunawan Benjamin, Rabu (14/10/2026).
Ditambahkan Gunawan, indiaktornya sudah mulai terlihat pada harga emas dunia. Dimana sejauh ini harga emas dunia ditransaksikan relatif stabil US$4.163 per troy ons, atau masih dikisaran Rp2,4 juta per gram.
“Harga emas terpantau bergerak sideways ditengah kemungkinan data inflasi AS yang merealisasikan angka lebih tinggi pada bulan September,” kata Gunawan. (ANG)






