ODEBA.id, Jakarta – Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$31,04 miliar pada 2024. Surplus tersebut dihasilkan dari surplus nonmigas sebesar US$51,44 miliar dan defisit migas sebesar US$20,40 miliar. Surplus tahunan ini melanjutkan tren surplus untuk lima tahun berturut-turut sejak 2020.
“Perolehan surplus perdagangan Indonesia pada 2024 adalah sebesar US$31,04 miliar. Surplus ini telah mencapai target surplus neraca perdagangan untuk 2024, yaitu US$30,30 miliar hingga US$38,80 miliar. Surplus tahun ini melanjutkan tren surplus tahunan selama lima tahun terakhir sejak 2020,” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, dalam keterangannya, Jumat (17/1/2025).
Dari sisi perdagangan nonmigasnya, Mendag menjelaskan, surplus nonmigas Indonesia 2024 sebagian besar disumbang oleh perdagangan dengan beberapa negara mitra dagang. Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus terbesar dengan US$16,84 miliar, diikuti India US$15,39 miliar, Filipina US$8,85 miliar, Malaysia US$4,13 miliar, dan Jepang US$3,71 miliar.
Sedangkan, neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2024 membukukan surplus sebesar US$2,24 miliar. Dengan capaian surplus ini, neraca perdagangan Indonesia meneruskan tren surplus selama 56 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus Desember 2024 didorong surplus nonmigas sebesar US$4,00 miliar dan defisit migas sebesar US$1,76 miliar.
Selama 2024, total nilai ekspor Indonesia mencapai US$264,70 milliar atau naik 2,29% dibandingkan 2023. Sementara itu, nilai ekspor nonmigasnya sendiri mencapai US$248,83 miliar atau naik 2,46% dibanding 2023. Sektor dengan peningkatan ekspor paling signifikan dibanding tahun sebelumnya terjadi pada sektor pertanian sebesar 29,81%, diikuti industri 5,33%. Sedangkan, ekspor sektor pertambangan turun 10,20%.
“Pada 2024, kenaikan ekspor nonmigas secara tahunan terjadi pada sektor pertanian dan industri, sedangkan ekspor sektor pertambangan menurun,” tutur Mendag.
Beberapa produk utama ekspor nonmigas dengan kenaikan tertinggi pada 2024, antara lain, kakao dan olahannya (HS 18) sebesar 118,63%; barang dari besi dan baja (HS 73) 101,10%; aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 70,07%; kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) 67,27%; serta tembaga dan barang daripadanya (HS 74) 51,11% (CtC).
Mendag mengungkapkan, Tiongkok, AS, dan India masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia pada 2024 dengan nilai mencapai US$106,86miliar. Ketiga negara ini berkontribusi sebesar 42,94% dari total ekspor nonmigas nasional.
Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia ke beberapa negara pada 2024 dengan peningkatan terbesar, antara lain, ke Australia sebesar 60,58% diikuti Rusia 44,04%, Brasil 34,84%, Turki 25,97%, dan Vietnam 25,04%.
Ditinjau dari kawasannya, kawasan tujuan ekspor nonmigas yang meningkat signifikan, antara lain Eropa Timur dengan 113,92%, diikuti Australia 60,58%, dan AS 20,37%. Khusus periode Desember 2024, total ekspor Indonesia mencapai US$23,46 miliar. Meskipun turun 2,24% dibanding ekspor November 2023, namun nilai ini naik 4,78% dibanding Desember 2023. Nilai ekspor nonmigas Desember 2024 tercatat US$21,92 miliar dan migas US$1,54 miliar. Ada peningkatan nilai ekspor nonmigas Desember 2024 sebesar 4,83% jika dibandingkan dengan Desember 2023.
Pada 2024, total impor Indonesia tercatat sebesar US$233,66 miliar. Nilai ini naik 5,31% dibanding periode yang sama pada 2023. Kenaikan ini terutama didorong kenaikan impor nonmigas sebesar 6,09% dan migas sebesar 1,24% dibanding periode yang sama pada 2023. Mendag memaparkan, pada 2024, seluruh impor golongan penggunaan barang meningkat. Impor barang konsumsi naik paling signifikan sebesar 5,37%, diikuti kenaikan impor barang modal sebesar 5,34% dan bahan baku/penolong 5,29% (CtC).
Beberapa produk impor nonmigas dengan kenaikan signifikan pada 2024, antara lain, logam mulia, perhiasan/permata (HS 71) 70,94%; kakao dan olahannya (HS 18) 48,81%; bahan kimia anorganik (HS 28) 22,93%; kain rajutan (HS 60) 17,41%; dan perangkat optik, fotografi, sinematografi (HS 90) 16,56% (CtC).
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia didominasi dari Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan total pangsa 48,69% dari total impor nonmigas pada 2024. Beberapa asal impor nonmigas dengan kenaikan tertinggi pada 2024, antara lain, Myanmar 280,90%, Pakistan 100,97%, Swedia 34,47%, Filipina 23,97%, dan Hongkong 22,97% (CtC).
Sementara itu, khusus Desember 2024, impor Indonesia tercatat sebesar US$21,22 miliar atau naik 8,10% dibandingkan November 2024. Nilai ini juga naik 11,07% dibandingkan Desember 2023. Kenaikan impor Desember 2024 terjadi baik pada sektor nonmigas sebesar 5,06% maupun pada migas sebesar 28,26% dari November 2024.
Mendag mengatakan, impor naik seiring dengan tumbuhnya industri manufaktur. Indikator Purchasing ManagersIndex (PMI) Indonesia periode Desember 2024 masih berada di zona ekspansif sebesar 51,20%. Selain itu, ada perbaikan kondisi pasar domestik yang ditandai dengan peningkatan indikator Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 127,7 poin di penghujung 2024. (ANG)






