ODEBA.id, Medan – Mata uang rupiah ditransaksikan menguat di level 17.970 per US Dolar pada sesi perdagangan sore. Penguatan rupiah tidak sendirian, sejumlah mata uang Asia lainnya juga turut menguat terhadap US Dolar. Sejumlah mata uang Asia tersebut diantaranya ada Yen Jepang, Hongkong Dolar, Singapura Dolar, India Rupe hingga Yuan China. US Dolar tengah mengalami tekanan sejalan dengan memburuknya kinerja USD Index, meskipun di sesi perdagangan sore USD Index terpantau menguat ke level 100.9.
Selain tekanan yang dialami US Dolar, rilis data cadangan devisa yang alami kenaikan pada bulan Juni juga menjadi katalis positif bagi rupiah. Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa cadangan devisa Tanah Air naik menjadi US$145,6 miliar, dari posisi sebelumnya US$144,9 miliar.
“BI mengutarakan kenaikan cadangan devisa terjadi saat ada kebijakan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah,” kata analis pasar keuangan, Gunawan Benjamin, Selasa (7/7/2026).
Disisi lain penguatan rupiah juga turut mendorong penguatan pada IHSG. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG menguat 1,19% ke level 5.986,497. Selama sesi perdagangan IHSG juga sempat ditransaksikan di zona merah, dan sempat berada di posisi terendahnya 5.890. Dengan rincian ada 430 emiten yang alami peningkatan, 212 ditutup turun dan sekitar 141 ditransaksikan stabil.
Sejumlah emiten yang menopang penguatan IHSG pada perdagangan hari ini diantaranya BBCA, BBRI, BMRI, ASII dan BBNI.
Namun kondisi berbeda justru ditunjukan oleh harga emas. Meskipun US Dolar mengalami tekanan pada perdagangan hari ini. Harga emas dunia justru ditransaksikan melemah ke level US$4.125 per troy ons, atau sekitar Rp2,39 juta per gram. (ANG)






