ibu tak pernah memulai, juga nanti
pada seribu puisi ibu berlari
menerjemahi luka yang tak sanggup berkabar
akan hiruk pikuk segala gelisah, dalam perjalanan sendiri
mungkin hanya wajah menafikan Tuhan
karena ibu menyimpan tangis sepi
ibu bahkan terlewatkan, apa yang bermarga mimpi
pada seribu puisi tercatat apik seperti
tak bisa menampik
ini bukan lagi pura-pura
bahkan senja menasbihkan salam dengan langit kata-kata
pada perempuan, ibuku yang puisi
[Phoebe Thadea, menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa dan majalah. Beberapa puisinya juga terangkum dalam buku antologi puisi, seperti Medan Puisi (2007) dan Cahaya (2010).]






