ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Ekonomi

1.236 Perusahaan Manufaktur Siap Berproduksi Pertama Kali pada 2026

BY El Simamora
Rabu, 4 Februari 2026
in Ekonomi
Ilustrasi aktivitas industri.

Ilustrasi industri sektor Manufaktur. (Ist)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

ODEBA.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa investasi di sektor industri manufaktur nasional tetap tumbuh dan berkelanjutan, sebagaimana tercermin dari realisasi kapasitas produksi baru serta indikator investasi riil lainnya.

Menanggapi pernyataan sejumlah pihak yang meragukan keberlanjutan investasi manufaktur, Kemenperin menilai pandangan tersebut kurang tepat dan tidak sepenuhnya mencerminkan data faktual.

BacaJuga

F&B ID Resmi Boyong Merek Kopi Asal Shanghai ‘M Stand’ ke Indonesia

Bukan Cuma Jobdesk, CMK Ajak Talenta Muda Pahami Cara Kerja Bisnis Secara Utuh

Pasar Global Makin Lirik Batik! Nilai Ekspor Melonjak hingga 32,5%

Berdasarkan data Kemenperin per 15 Januari 2026, terdapat 1.236 perusahaan industri yang telah menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kalinya pada 2026. Kehadiran kapasitas produksi baru ini menjadi bukti konkret bahwa investasi manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi juga direalisasikan secara nyata di sektor riil.

Investasi industri pada tahun 2026 tersebut diharapkan menyerap tenaga kerja baru sebanyak 218.000 orang. Industri baru ini merupakan relokasi dari luar negeri, ekspansi atau investasi baru. Industri baru ini diharapkan mampu menciptakan PDB (Produk Domestik Bruto) dan kemudian menambah PDB IPNM yang telah ada selama ini.

“Masuknya investasi ke sektor industri tidak bisa dinilai hanya dari satu indikator sentimen. Fakta bahwa lebih dari seribu perusahaan industri siap beroperasi pada 2026 menunjukkan bahwa investasi manufaktur berjalan dan berkelanjutan,” ujar Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri, Rabu (4/2/2026).

Febri menambahkan, anggapan bahwa investasi manufaktur tidak tumbuh justru bertentangan dengan data resmi pemerintah. Data rilis ekspor-impor terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor barang modal pada tahun 2025 tumbuh di atas 34,66% dibandingkan tahun 2024.

Impor barang modal tersebut terutama berasal dari impor mesin dan peralatan mekanis, yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas investasi baru dan perluasan kapasitas produksi atau ekpansi industri.

“Peningkatan signifikan impor barang modal, khususnya mesin dan peralatan mekanis, menjadi indikator kuat bahwa investasi manufaktur justru tumbuh pesat, terutama sepanjang 2025. Ini menunjukkan industri sedang melakukan ekspansi dan modernisasi kapasitas produksi,” tegas Jubir.

Selain itu, realisasi produksi baru pada 2026 diperkirakan akan didukung oleh investasi sektor industri pengolahan nonmigas dalam jumlah besar serta berpotensi menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Hal ini sekaligus memperkuat struktur industri nasional dan menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur di atas 5%.

Kemenperin menilai bahwa indikator berbasis aktivitas riil, seperti jumlah perusahaan yang mulai berproduksi, realisasi investasi, serta impor barang modal, memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif mengenai kondisi investasi manufaktur dibandingkan indikator berbasis survei semata.

Ke depan, Kemenperin terus mendorong penguatan iklim investasi industri melalui kebijakan hilirisasi, pengembangan kawasan industri, transformasi industri 4.0, serta penguatan pasar domestik dan ekspor. Langkah ini dilakukan untuk memastikan investasi manufaktur tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak nyata terhadap perekonomian nasional.

“Dengan berbagai kebijakan tersebut, kami optimistis investasi industri manufaktur akan terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Febri. (ANG)

Next Post
Ilustrasi Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Kemenag Pastikan TPG Guru Lulusan PPG 2025 Bakal Dibayar

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba