ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Ragam

Studi: Anak Telat Berkembang di Usia 4-5 Tahun, Berisiko Gagal Usia 16-17

BY El Simamora
Sabtu, 8 Juni 2024
in Ragam
Ilustrasi anak-anak.

Ilustrasi anak-anak. (Ist)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Odeba.id, Jakarta – Kesiapan sekolah pada usia 4-5 tahun dapat membantu memprediksi pengangguran dan putus sekolah pada usia 16-17 tahun.

Berdasarkan penelitian yang dinakhodai University of Leeds dan Lancaster University, anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan pada usia 4-5 tahun mempunyai kemungkinan tiga kali lebih besar untuk tidak mendapatkan pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan pada usia 16-17 tahun. Penelitian ini dilakukan di Inggris.

BacaJuga

Resmi Dirilis, Menu Film Empat Musim Pertiwi Kini Hadir di The People’s Cafe

Masuk Indonesia, Samsung Galaxy S26 FE Bawa 47 Fitur Galaxy AI

Bikin Konten Makin Mudah, Intip Deretan Fitur Baru di Apple Creator Studio

Anak-anak usia 4-5 tahun di Inggris dalam penelitian ini dinilai berdasarkan apa yang dinamakan sebagai Early Years Foundation Stage Profile. Mereka yang mencapai ambang batas ‘tingkat perkembangan yang baik’ dianggap siap sekolah.

Studi baru di jurnal BMC Public Health menemukan kesenjangan yang signifikan dalam data tingkat pendidikan sekunder atau General Certificate of Secondary Education (GCSE) dan status tidak sekolah, menganggur, dan tidak dalam penelitian atau Not in Education, Employment or Training (NEET) antara mereka yang siap dan tidak siap untuk sekolah dasar. Penelitian ini mengambil data dari lebih dari 8.000 anak muda Bradford yang catatannya dihubungkan sebagai bagian dari proyek Connected Bradford.

“Temuan ini memberi tahu kita ada indikator awal yang jelas bahwa anak-anak dan remaja berada pada risiko dirugikan pada masa remaja akhir. Ketika sekolah secara rutin mengumpulkan data ini, penelitian ini dapat digunakan untuk memulai intervensi dini di sekolah berdasarkan kesiapan sekolah dasar,” jelas penulis utama Dr Matthew Warburton, staf peneliti di Leeds’ School of Psychology.

Persentase Risiko Menganggur dan Tidak Sekolah di Usia 16-17

Penelitian tersebut menemukan 11% anak-anak yang tidak siap sekolah menjadi Not in Education, Employment or Training (NEET) atau tidak sekolah, bekerja, dan dalam pelatihan pada usia 16-17 tahun, dibandingkan dengan 4% anak-anak yang siap sekolah.

Kerugian awal ini juga memprediksi pencapaian di tingkat pendidikan sekunder atau yang dalam penelitian ini diistilahkan sebagai General Certificate of Secondary Education (GCSE). Dari anak-anak yang dinilai belum siap sekolah, 44% mencapai GCSE di level 2 (kelas 4 atau lebih tinggi) dalam bahasa Inggris, matematika, dan lima mata pelajaran secara keseluruhan. Sementara, 77% dari anak-anak yang siap sekolah mencapai hasil tersebut.

Tim peneliti, yang juga termasuk akademisi dari Lancaster University dan Bradford Institute for Health Research, mengatakan hal ini menunjukkan perlunya intervensi dini oleh sekolah untuk mengurangi kerugian di kemudian hari.

Hal ini sejalan dengan pesan dari serangkaian laporan N8 Child of the North dan Center for Young Lives tentang perlunya mengutamakan anak-anak dan remaja.

“Data dari Early Years Foundation Stage Profile tersedia untuk jutaan anak-anak dan remaja di Inggris. Informasi ini dapat, dan harus, digunakan untuk mengidentifikasi murid-murid yang berisiko lebih tinggi menjadi NEET,” terang penulis senior Dr Amy Atkinson, Dosen Departemen Psikologi di Lancaster University.

Penelitian ini didanai oleh National Institute for Health and Care Research, UK Prevention Research Partnership, Medical Research Council, dan sumbangan anonim ke Universitas Leeds agar Dr Warburton dapat menyelidiki NEET.

Para peneliti menunjukkan ketersediaan data dapat menafsirkan NEET hanya dapat dinilai pada usia 16-17 tahun. Selain itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menilai proyeksi ini dalam skala waktu yang lebih lama. (dtc)

Next Post
Ilustrasi kecelakaan

Polres Langkat Ungkap Kronologi 5 Orang Tewas di Tol Binjai-Stabat

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba