Tak bisa dicegah dan disangkal kita telah memasuki era statistika. Dunia penuh angka-angka, hitung menghitung, dan perangkingan. Beragam institusi baik Pemerintah, swasta hingga lembaga kemasyarakatan kompak menyelenggarakan survey, jajak pendapat, indeks dan kuesioner untuk memotret realitas atau capaian kinerjanya. Hasilnya kemudian dipublikasi. Saling menilai antar Lembaga pun terjadi. Agar lebih menarik dibuatlah model pemeringkatan. Secara akumulatif kita sudah tersihir angka statistik dan terlena mengejar skor dan peringkat belaka.
Sihir Statistik
Variabel sosial mana yang tidak menggunakan angka? Pengangguran, kemiskinan, produktivitas, kesejahteraan tak lepas dari angka. Setiap argumentasi yang dilontarkan pengamat pasti akan dipertanyakan, mana angkanya? mengukur kepuasan pelanggan, pelayanan publik, transaksi jual beli, serapan anggaran dan banyak lagi. Kementerian Agama pun kini menyajikan sejumlah angka seperti indeks kerukunan umat beragama, indeks kesalehan sosial dan sebagainya.
Angka itu penting sebagai alat ukur capaian. Tapi kita sering terlena bahkan dimabuk angka. Kita menjadi pragmatis dan manipulatif demi mengejar peringkat. Padahal metode kuantitatif sendiri dapat direkayasa. Supaya skor kinerja anda baik, buat saja target rendah, lalu ketika anda mencapainya maka prosentase capaiannya akan tinggi 90 hingga 100%. Jika peringkat anda diatas tentu menyenangkan, tapi bila tidak anda akan malu, khawatir, tertekan dan sebagainya. Begitulah cara sihir statistik bekerja.
Richard Dawkins dalam bukunya The Magic of Reality membagi sihir dalam tiga bentuk. Pertama, sihir adi-alami. Yaitu jenis sihir yang kita temukan dalam mitos atau dongeng. Misalnya sihir lampu Aladdin, atau sihir sang Peri mengubah katak menjadi pangeran dan labu menjadi kereta kencana. Tentu kita semua ingat cerita ini dari masa kanak-kanak, dan sepakat bahwa sihir macam ini hanyalah fiksi dan tidak terjadi dalam realitas.
Berlawanan dengan yang pertama adalah jenis sihir panggung, dibawakan para pesulap. Sihir ini betul-betul terjadi dan mungkin menyenangkan. Misalkan ketika seorang pesulap berhasil mengubah saputangan menjadi kelinci, atau membelah dua tubuh seorang wanita lalu disambung kembali tanpa luka serius. Yang kita lihat diatas panggung hanyalah tipuan. Mata kita menipu kita. Atau barangkali si pesulap menipu kita secara cerdas menggunakan berbagai cara untuk mengalihkan perhatian kita dari apa yang sebenarnya dia sedang lakukan di tangannya. Tentu saja kita baru mengetahui semua hanya tipuan ketika salah satu pesulap berkata jujur dan membongkar rahasianya.
Lalu ada sihir ketiga yang datang karena kekaguman nyata. Rasa takjub ketika memandang taburan bintang kecil bercahaya di malam gelap, bentangan pohon tertata rapih dan lampu perkotaan dari puncak gunung. Sambil menahan napas karena terpukau kita sebut pemandangan itu “sungguh menyihir”. Sihir yang mengguggah rasa. Sesuatu yang membuat kita merasa lebih hidup. Dan mengajak kita merenung betapa luar biasa penciptaan semesta ini.
Meminjam gagasan Dawkins, angka statistik yang dimanipulasi ibarat intrik seorang pesulap diatas panggung yang menipu mata kita. Meski memiliki skor bagus hanyalah mitos belaka yang tidak pernah terjadi dalam realitas. Obsesi berlebihan terhadap capaian angka akan menimbulkan banyak siasat. Siasat bawahan untuk menyenangkan atasannya, atau siasat pejabat mengelabuhi publik luas. Saya sependapat dengan perkataan teman bahwa statistik adalah instrumen orang pandai untuk mengelabuhi keadaan buruk seolah-olah baik.
Namun jangan salah paham kesimpulan statistik yang diambil melalui kaidah ilmu pengetahuan sangat bermanfaat. Ia akan menjadi cermin hidup bagi penguasa sebelum mengambil kebijakan, atau barangkali panduan menuju jalan benar kebijakan. Bayangkan kaum yang berada diujung penderitaan dan memerlukan pertolongan segera, dimana tidak ada birokrasi yang menyadari keberadaaanya. Lalu tiba-tiba dengan kebijakan yang terukur anda berhasil menemukan lalu menolongnya.
Paradigma Kualitatif
Menteri Agama, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar dalam berbagai pidatonya melakukan otokritik atas kegemaran kita mengejar peringkat belaka. Beliau tidak terlalu terkesan dengan capaian angka, rangking, penghargaan dan semacamnya. Beliau mementingkan korelasi positif antara skor tinggi dengan pencapaian tujuannya. Jika peran Kementerian memberi kepuasan layanan kepada umat diberi peringkat baik, perlu dicek apakah berkorelasi positif dengan spiritualitas dan kesejahteraan hidup mereka atau tidak.
Pendekatan kualitatif dalam statistika berorientasi pada pengenalan terhadap situasi empirik yang langsung dialami Masyarakat. Menggali lebih mendalam pemahaman akan suatu masalah. Dan melakukan tindakan holistik sebagai solusi penyelesaiannya. Capaian kualitatif program kerja Kementerian bukan bertujuan menyerap anggaran semata, tapi menjawab apakah terdapat pemenambahan makna dan barangkali memperbarui tatanan sosial keagamaan yang lebih aman, damai dan penuh kebijaksanaan.
Paradigma ini kemudian menjadi faktor pembeda Kementerian Agama dari institusi lain. Jika perusahaan berkutat mengerjakan neraca laba rugi dan Kementerian dibidang perekonomian mengukur surplus defisit perdagangan melalui angka. Kita adalah Kementerian dengan output yang nyaris tidak terlihat namun sebenarnya punya pengaruh besar terhadap kemaslahatan. Kerja-kerja Kementerian Agama bersifat inkognito namun dapat berdampak luas. Kita melapisi celah kosong kepribadian manusia antara hidup baik dan hidup benar. seperti membangun bahtera Nabi Nuh untuk menyelamatkan banyak orang dari gelombang laut kebinasaan.
Kesuksesan pendekatan kualitatif diharapkan mencegah ketamakan para penyelenggara negara dalam menjalankan tugas-tugasnya. Sebab sikap tamak adalah akar dari tindak korupsi. Orang akan menghindari korupsi bukan karena takut hukum pidana melainkan kesadaran penuhnya mengelola uang negara dengan baik. Bersikap disiplin bukan karena regulasi yang mengaturnya melainkan sadar akan kewajiban pokok layaknya Aparatur Sipil Negara. Menghindari sifat-sifat arogansi dalam menjalankan kewenangan namun berorientasi pelayanan publik.
Sementara pada tataran masyarakat, kedekatan umat terhadap agamanya bukan hanya memunculkan sikap toleran, tapi juga tumbuh rasa kasih sayang. Baik kepada sesama maupun ke semua umat beragama, pun kepada lingkungannya. ketika hidup terasa berat dimana negara dilanda bencana alam, daya beli rendah, perekonomian lesu, PHK, kita memiliki agama sebagai tempat berteduh. Kehidupan akan selalu diliputi rasa Syukur, hikmat dan arif.
Terakhir, tulisan ini tidak bermaksud mendikotomikan dua pendekatan yang sama-sama ilmiah ini. Kuantitatif tentu saja punya keunggulan. Terutama prinsip objektifitas dan kekuatan rasionalnya. Tapi angka dan perangkingan tinggi tersebut perlu diuji dan dikonfirmasi melalui pendekatan empirik kualitatif. Angka statistik telah lama mencengkeram kebiasaan kita dan mungkin masih terjadi sampai hari-hari esok, tapi jangan pernah abaikan substansi tujuan Kementerian ini dibentuk. Saya harap anda setuju bahwa kebenaran memiliki sihirnya sendiri, dan kebenaran sesungguhnya lebih menyihir.
Martin Hasiholan Siagian, ASN pada Ditjen Bimas Kristen, Kemenag RI. Sumber: Kemenag.






