ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Ragam

Ragam Tradisi Jelang Ramadan di Ranah Minang

BY El Simamora
Minggu, 10 Maret 2024
in Ragam
Tradisi Manjalang Minangkabau

Manjalang berarti mengunjungi mertua. Tradisi ini dilakukan oleh menantu perempuan sebagai bentuk penghormatan kepada mertua. (Ist)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Odeba.id, Padang – Menjelang bulan Ramadan, masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat (Sumbar) memiliki tradisi unik. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menyambut bulan suci dan mempererat tali silaturahmi antar keluarga.

Berikut tradisi yang masih banyak dilaksanakan di Minangkabau:

BacaJuga

Resmi Dirilis, Menu Film Empat Musim Pertiwi Kini Hadir di The People’s Cafe

Masuk Indonesia, Samsung Galaxy S26 FE Bawa 47 Fitur Galaxy AI

Bikin Konten Makin Mudah, Intip Deretan Fitur Baru di Apple Creator Studio

1. Marandang

Marandang adalah tradisi memasak rendang, masakan daging sapi yang kaya rempah dan terkenal kelezatannya. Bagi masyarakat Minang, rendang menjadi hidangan wajib di hari raya.

Proses memasaknya yang rumit dan membutuhkan waktu lama menjadikannya simbol ketekunan dan kesabaran.

2. Malamang

Malamang adalah tradisi memasak lemang, penganan yang terbuat dari beras ketan dan santan yang dimasukkan dalam bambu.

Bambu tersebut dialasi daun pisang muda dan dipanggang di atas bara api. Lemang biasanya disajikan bersama tapai atau ketan hitam yang difermentasi.

3. Manjalang

Manjalang berarti mengunjungi mertua. Tradisi ini dilakukan oleh menantu perempuan sebagai bentuk penghormatan kepada mertua.

Menantu perempuan biasanya membawa rantang berisi masakan, termasuk rendang dan lemang, untuk dihidangkan dan dimakan bersama-sama.

Tradisi ini menjadi momen penting bagi keluarga Minang untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan dalam menyambut bulan Ramadan.

Salah satu tradisi masyarakat di Minangkabau selama bulan Ramadan adalah Maanta Pabukoan (Mengantar Perbukaan).

Tradisi ini dilakukan oleh wanita yang sudah menikah, mengantar perbukaan paling tidak satu kali selama Ramadan ke rumah keluarga mertua. Pabukoan yang dibawa bisa berupa kue-kue tradisional.

Tradisi ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda untuk menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi leluhur.

4. Ziarah Kubur

Diantara tradisi menjelang bulan Ramadhan (akhir Sya’ban) yang dilakukan sebagian masyarakat Sumbar adalah ziarah kubur.

Berziarah ke makam orang tua dan juga ke makam orang shalih dan para wali. Ini dilakukan untuk mengingatkan kita kepada kematian dan akhirat.

Setelah berziarah akan dilakukan juga gotong royong membersihkan pandam pekuburan, ajang saling bertimbang maaf dan silaturahmi

5. Membersihkan Masjid

Warga muslim di sejumlah daerah di Sumbar beramai-ramai untuk membersihkan masjid menjelang masuknya bulan suci Ramadan.

Warga bergotong-royong melakukan beberapa hal, seperti pengecatan ulang, pergantian karpet, penyusunan pengeras suara, pengaturan donasi untuk makanan berbuka dan sahur.

6. Mandi Balimau

Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian.

Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad.

7. Mambantai

Membantai kerbau/sapi sudah menjadi trdisi Masyarakat minang sejak dari nenek moyang terdahulu, membantai ini dilakukan sehari sebelum puasa masuk, ini dilakukan berkaum-kaum atau berkelompok-kelompok dari kalangan suku atau tempat tinggal mereka.

Daging-daging tersebut akan dibikin rendang, dendeng, kalio daging dan lainnya untuk menanti perantau yang akan pulang di bulan suci Ramadan.

Dan tradisi-tradisi ini perlu dilestarikan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai positif dan meminimalisir dampak negatifnya. (Pasbana)

Next Post
Gerbang Tol Amplas

29.753 Kendaraan Lintasi Tol Medan-Tebing Tinggi di Hari Pertama Libur Nyepi

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba