ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Nasional

Pakar BRIN Paparkan Astronomi dalam Manuskrip Sunda

BY El Simamora
Selasa, 1 Oktober 2024
in Nasional
Ilustrasi.

Ilustrasi. (Ist)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Odeba.id, Bandung – Salah satu bentuk pengetahuan lokal tentang astronomi adalah manuskrip (Sunda). Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Manuskrip, Literatur dan Tradisi Lisan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Heryana menerangkan, manuskrip Sunda mewartakan keberadaan benda-benda langit (astronomi) dalam bentuk aplikatif dan (ajaran) spiritual. Matahari, bulan, bintang, awan, langit seringkali menjadi penunjuk arah, baik tempat maupun waktu.

Penanggalan (sistem kalender) dan arah mata angin juga sering diungkap pada naskah-naskah Sunda, khususnya naskah Paririmbon, untuk menentukan sebuah pekerjaan atau peruntungan.

BacaJuga

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

“Namun tidaklah dalam pandangan spiritual; keberadaan benda-benda langit (astronomi) digunakan untuk mengekspresikan perjalanan ruh atau atman manusia dalam mencapai kebahagiaan tertinggi dengan Tuhan-nya. Hubungan manusia dengan Tuhan dijalin melalui ciptaanNya, yakni alam semesta,” kata Agus, dikutip dari laman BRIN, Selasa (1/10/2024).

Berdasarkan isinya, manuskrip Sunda bisa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu agama, bahasa, hukum/aturan, kemasyarakatan, mitologi, pendidikan, pengetahuan, primbon, sastra, sastra sejarah, sejarah, dan seni.

Berkaitan dengan tema astronomi dalam manuskrip, sejauh penelitian yang ada belum diperoleh manuskrip yang membahas secara penuh dan khusus mengenainya. Bahasannya cenderung tersebar dalam bentuk ungkapan-ungkapan metafora atau majas, perbandingan untuk menjelaskan tentang sesuatu hal.

Dalam manuskrip Sunda, telah dilakukan penelusuran hal-hal baru terkait pengetahuan astronomi. Manuskrip tersebut ditulis pra-Islam sekitar abad 14-15 yang dilanjutkan dengan masa-Islam. Ada tiga manuskrip pra-Islam yang terpilih, yaitu: Siksakanda Karesian, Sewaka Darma, dan Bujanggamanik. Sedangkan naskah masa-Islam adalah Wawacan Pandita Sawang, Paririmbon, dan Gandasari. Dua naskah merupakan kelompok agama yakni satu naskah tasawuf, dan satu adalah pengetahuan lokal masyarakat Sunda (Paririmbon).

Masyarakat Sunda juga mencatat nama-nama benda langit yaitu sebagai berikut: (1) panonpoe, srangenge, matapoe, surya (matahari), (2) bulan, (3) béntang/bintang,(4) langit, (5) katumbiri (Pelangi), (6) mega (awan), (7) akasa, awang-awan (angkasa),  (8) awun-awun (awan paling atas), (9) alak paul (langit tertinggi), (10) teja, tejamentrang (sinar), (11) kilat, (12) guludug, (13) gelap (Guntur, petir, geledek), (14) kingkilaban.

Keempat belas benda langit tersebut secara jelas terlihat dengan mata telanjang. Namun karena posisinya berada di atas, maka untuk melihatnya diperlukan gerakan kepala ke atas dengan cara mendongakan kepala. Posisi benda-benda langit yang berada di atas dalam manuskrip digunakan untuk menempatkan makhluk-makhluk yang dianggap suci. Langit merupakan representasi ketinggian dan kesucian yang tak terjangkau.

“Sumbangan terpenting dunia astronomi dalam kehidupan manusia secara umum adalah adanya sistem penanggalan atau kalender. Sampai sekarang di lingkungan masyarakat dikenal empat macam tahun, yaitu tahun Saka, tahun Hijrah (Arab), tahun Jawa dan tahun Masehi. Perhitungan tahun Saka dan Masehi didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari yang biasa disebut tahun Surya (Syamsiah). Sedangkan tahun Hijriah dan tahun Jawa berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi yang biasa disebut tahun rembulan (Qomariah),” pungkas Agus. (ANG)

Next Post
Juru Bicara Kementerian Agama, Sunanto.

Tanggapan Kemenag Soal 5 Rekomendasi Pansus Angket Haji

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba