ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Kolom

Menilik Ceruk Investasi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

BY El Simamora
Sabtu, 15 Juni 2024
in Kolom
Investasi

Ilustrasi investasi. (Shutterstock)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Ditengah ketidakpastian ekonomi sekarang ini, memicu terjadinya peningkatan risiko investasi di banyak instrumen keuangan, komoditas maupun properti. Beberapa indikator ekonomi makro yang menunjukkan peningkatan risiko investasi kedepan diantaranya adalah perlambatan kinerja ekonomi global, tensi geopolitik yang meningkat, perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) yang belakangan meluas ke Eropa, hingga tingginya bunga acuan yang diperkirakan bertahan lebih lama.

Pasar saham yang merupakan representasi paling dekat dengan sektor ril pada akhirnya juga sangat terpengaruh dengan beberapa indikator tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan juga mengalami tekanan, yang membuat investasi di pasar saham memiliki risiko yang besar. Jika investor ingin menginvestasikan uangnya ke pasar saham, maka yang dibutuhkan adalah mencari perusahaan yang mampu merealisasikan keuntungan di situasi ekonomi yang mengalami tekanan saat ini.

BacaJuga

Bulan Rosario Umat Katolik: Paus Leo XIV Serukan Doa untuk Perdamaian

Guru, Mengajar (lah) dengan Cinta

Hari Bumi dan Harapan pada Ekoteologi

Sehingga kalaupun nantinya berinvestasi di saham, investor harus lebih selektif memilah saham yang dipilih. Ditambah lagi sejumlah sektor usaha di tahun 2024 ini diproyeksikan akan mengalami perlambatan kinerja keuangan. Saya menilai sektor keuangan dan perbankan, tekstil, properti, dan perusahaan consumer goods labanya akan mengalami tekanan.

Sementara sektor pertambangan dan perkebunan, kinerja keuangannya diproyeksikan mendatar dengan tetap mengalami tekanan. Terlebih belakangan ini pelemahan mata uang rupiah juga turut memperburuk kinerja emiten di pasar saham. Bukan hanya dikarenakan oleh kenaikan biaya input produksinya saja, disisi lain hutang dalam bentuk valas yang tinggi juga bisa mengakibatkan kerugian kurs bagi emiten.

Jika investor ingin berinvestasi ke properti, belakangan banyak properti yang justru dijual dengan harga miring (lebih murah). Untuk jenis properti baru (perumahan), harganya juga sulit naik belakangan ini. Pertumbuhan harga properti juga dibawah 3% dalam setahun. Bahkan untuk jenis properti tertentu pertumbuhan harganya banyak yang mengalami stagnasi.

Membeli properti disaat banyak harga properti (umumnya non residensial) mengalami penurunan bisa menjadi kebijakan yang bijak. Tetapi investasi seperti ini membutuhkan waktu yang lama (jangka panjang) untuk mendapatkan keuntungan. Dan jika situasi ekonomi kedepan memburuk, maka peluang penurunan harga properti masih akan terjadi. Sehingga saya berkesimpulan bahwa harga properti saat ini yang mengalami stagnasi dengan kecenderungan turun belum menemukan titik terendahnya.

Selanjutnya, emas dan deposito yang sejauh ini dinilai sebagai investasi yang masuk akal. Untuk deposito memang masih akan tergerus oleh inflasi. Meski demikian, deposito tetap menjadi instrumen yang aman, uang tetap tumbuh walaupun tidak bisa diharapkan akan memberikan imbal hasil yang besar. Terlebih jika imbal hasil diharapkan lebih besar dari inflasi pangan.

Untuk harga emas, sebenarnya juga cukup menjanjikan. Emas masih dalam tren naik di tahun depan, seiring dengan ekspektasi pemangkasan bunga acuan dolar AS. Disisi lain, tensi geopolitik yang memburuk dan meluas, pada dasarnya juga bisa menjadi kabar baik bagi harga emas. Sehingga emas menjadi instrument investasi yang didukung oleh fundamental yang masih kokoh. Sehingga masih layak untuk dikoleksi.

Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi dan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumatra Utara. Saat ini juga aktif mengajar di Fakultas Ekonomi UISU.

Next Post
Jemaah haji Indonesia tiba di Arafah.

Puncak Haji, Seluruh Jemaah Haji Laksanakan Wukuf di Arafah

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba