Ditengah ketidakpastian ekonomi sekarang ini, memicu terjadinya peningkatan risiko investasi di banyak instrumen keuangan, komoditas maupun properti. Beberapa indikator ekonomi makro yang menunjukkan peningkatan risiko investasi kedepan diantaranya adalah perlambatan kinerja ekonomi global, tensi geopolitik yang meningkat, perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) yang belakangan meluas ke Eropa, hingga tingginya bunga acuan yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Pasar saham yang merupakan representasi paling dekat dengan sektor ril pada akhirnya juga sangat terpengaruh dengan beberapa indikator tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan juga mengalami tekanan, yang membuat investasi di pasar saham memiliki risiko yang besar. Jika investor ingin menginvestasikan uangnya ke pasar saham, maka yang dibutuhkan adalah mencari perusahaan yang mampu merealisasikan keuntungan di situasi ekonomi yang mengalami tekanan saat ini.
Sehingga kalaupun nantinya berinvestasi di saham, investor harus lebih selektif memilah saham yang dipilih. Ditambah lagi sejumlah sektor usaha di tahun 2024 ini diproyeksikan akan mengalami perlambatan kinerja keuangan. Saya menilai sektor keuangan dan perbankan, tekstil, properti, dan perusahaan consumer goods labanya akan mengalami tekanan.
Sementara sektor pertambangan dan perkebunan, kinerja keuangannya diproyeksikan mendatar dengan tetap mengalami tekanan. Terlebih belakangan ini pelemahan mata uang rupiah juga turut memperburuk kinerja emiten di pasar saham. Bukan hanya dikarenakan oleh kenaikan biaya input produksinya saja, disisi lain hutang dalam bentuk valas yang tinggi juga bisa mengakibatkan kerugian kurs bagi emiten.
Jika investor ingin berinvestasi ke properti, belakangan banyak properti yang justru dijual dengan harga miring (lebih murah). Untuk jenis properti baru (perumahan), harganya juga sulit naik belakangan ini. Pertumbuhan harga properti juga dibawah 3% dalam setahun. Bahkan untuk jenis properti tertentu pertumbuhan harganya banyak yang mengalami stagnasi.
Membeli properti disaat banyak harga properti (umumnya non residensial) mengalami penurunan bisa menjadi kebijakan yang bijak. Tetapi investasi seperti ini membutuhkan waktu yang lama (jangka panjang) untuk mendapatkan keuntungan. Dan jika situasi ekonomi kedepan memburuk, maka peluang penurunan harga properti masih akan terjadi. Sehingga saya berkesimpulan bahwa harga properti saat ini yang mengalami stagnasi dengan kecenderungan turun belum menemukan titik terendahnya.
Selanjutnya, emas dan deposito yang sejauh ini dinilai sebagai investasi yang masuk akal. Untuk deposito memang masih akan tergerus oleh inflasi. Meski demikian, deposito tetap menjadi instrumen yang aman, uang tetap tumbuh walaupun tidak bisa diharapkan akan memberikan imbal hasil yang besar. Terlebih jika imbal hasil diharapkan lebih besar dari inflasi pangan.
Untuk harga emas, sebenarnya juga cukup menjanjikan. Emas masih dalam tren naik di tahun depan, seiring dengan ekspektasi pemangkasan bunga acuan dolar AS. Disisi lain, tensi geopolitik yang memburuk dan meluas, pada dasarnya juga bisa menjadi kabar baik bagi harga emas. Sehingga emas menjadi instrument investasi yang didukung oleh fundamental yang masih kokoh. Sehingga masih layak untuk dikoleksi.
Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi dan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumatra Utara. Saat ini juga aktif mengajar di Fakultas Ekonomi UISU.






