Pendaftaran calon kepala daerah sudah dilakukan, dan tahapan selanjutnya adalah kampanye hingga sampai kepada hari pencoblosan. Dampak positif dari Pilkada bagi perekonomian adalah perputaran uang akan lebih banyak, dan ekonomi akan lebih menggeliat lagi. Dikarenakan aktivitas Pilkada akan mendorong partai politik maupun kontestan yang bertarung mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan Pilkada.
Termasuk juga uang yang dialokasikan dalam bentuk anggaran yang disediakan oleh pemerintah. Pengeluaran selama Pilkada nantinya akan banyak mengalir ke masyarakat. Karena selama kampanye para kontestan yang bertarung akan merebut simpati warga. Akan ada banyak agenda yang mengumpulkan masyarakat.
Sehingga akan ada kebutuhan akomodasi makanan dan minuman. Selanjutnya akan ada kebutuhan yang besar untuk belanja spanduk dan alat peraga. Belum lagi belanja yang besar untuk kebutuhan pulsa. Jasa tanaga kerja, hingga jasa untuk menghadirkan tokoh masyarakat atau pemuka agama. Dan masih banyak pengeluaran lainnya seperti sewa kendaraan, sewa gedung, hotel atau balai pertemuan.
Sehingga akan ada banyak sektor usaha yang diuntungkan dengan gelaran Pilkada tersebut. Sejumlah sektor usaha yang akan diuntungkan secara langsung adalah sektor telekomunikasi, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, hingga akomodasi makanan dan minuman. Dan sekor usaha yang secara tidak langsung mendapatkan manfaat adalah industri pengolahan dan pertanian.
Yang pada akhirnya nanti akan membuat sisi konsumsi atau belanja masyarakat mengalami kenaikan. Dengan adanya belanja dari parpol, pemerintah hingga para kontestan. Maka akan ada uang lebih yang dipegang oleh masyarakat. Yang nantinya akan memutar roda perekonomian. Kalau dilihat dari sisi pengeluaran maka pengeluaran konsumsi rumah tangga, diperkirakan pengeluaran pemerintah dan pengeluaran konsumsi LNPRT (lembaga non profit yang melayani rumah tangga) akan mengalami peningkatan.
Laju pertumbuhan ekonomi Sumut secara kuartalan nantinya akan tumbuh signifikan. Dan secara tahunan atau year on year, di kuartal ke IV Sumut akan merealisasikan pertumbuhan ekonomi maksimal dikisaran 4,8%. Dan ada peluang dimana ekonomi Sumut mampu melampaui batas tersebut denga kondisi tertentu, meskipun akan sulit untuk direalisasikan.
Kinerja ekonomi Sumut di kuartal ketiga bakal lebih buruk realisasinya dibandingkan dengan kuartal kedua. Kuartal ketiga diproyeksikan akan tumbuh paling lambat dibandingkan dengan kuartal yang lainnya. Dan baru akan membaik kinerjanya di kuartal keempat nantinya. Yang paling utama dan paling penting adalah bagaimana nantinya Pilkada bisa menjaga kondusifitas di wilayah ini.
Karena itu, disarankan agar parpol atau kontestan yang maju Pilkada, lebih banyak menghabiskan pengeluarannya pada kebutuhan yang bersinggungan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Pengeluaran jangan sampai terfokus pada belanja yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti kebutuhan di sektor telekomunikasi.
Dimana parpol dan kontestan cenderung lebih banyak berkampanye melalui saluran digital dibandingkan dengan datang langsung bertemu dengan masyarakat. Atau kebutuhan yang lebih memprioritaskan alat peraga atau iklan dibandingkan pengeluaran untuk kebutuhan pengadaan makanan dan minuman. Pengeluaran yang dianggarkan harus bisa dihabiskan dan bermanfaat untuk menjaga daya beli masyarakat.
Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi dan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumatra Utara. Saat ini juga aktif mengajar di Fakultas Ekonomi UISU.






