ODEBA.id, Medan – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut) gandeng Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Medan menggelar perhelatan Medan Fashion Trend (MFT) 2026, di Delipark Mall, Medan.
Ajang yang berlangsung selama empat hari hingga 26 Juli 2026 tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem fesyen dan wastra Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sekaligus memperluas jangkauan pasar industri kreatif daerah.
Mengusung tema “From Invisible to Iconic”, MFT 2026 menghadirkan beragam rangkaian acara stratejik, seperti peragaan busana (fashion parade), dialog interaktif (talkshow), lokakarya penguatan merek (brand workshop) bagi desainer muda, pameran busana, kompetisi desain, hingga Kids Fashion Competition.
Inisiatif ini dirancang sebagai ruang pembelajaran, promosi, dan kolaborasi guna meningkatkan visibilitas serta kualitas komersialisasi produk fesyen lokal.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sunut, Ameriza M. Moesa, menegaskan komitmen lembaganya dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan industri fesyen sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif Sumatera Utara. Kekayaan ulos, songket, dan tenun perlu terus diinovasikan melalui desain yang berkualitas agar menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Ameriza, Jumat (24/7/2026).
Perhelatan MFT 2026 melibatkan 163 desainer UMKM Sumut dengan menampilkan 15 busana (looks) pada acara pembukaan, dari total 521 karya yang dijadwalkan tampil sepanjang pagelaran. Sejumlah perancang busana nasional ternama, seperti Deden Siswanto dan Gregorius Vici, turut hadir memeriahkan dan membimbing para desainer daerah.
Dalam kesempatan yang sama, National Chair IFC, Lenny Agustin, menekankan pentingnya sinergi antar-pelaku industri untuk mengangkat wastra lokal menjadi warisan budaya bernilai ekonomi tinggi.
“Medan Fashion Trend menjadi ruang kolaborasi untuk mengangkat wastra lokal sebagai warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing. Sinergi antarpelaku industri menjadi penting agar kreativitas desainer, keterampilan perajin, dan kekuatan identitas lokal dapat terhubung dengan ekosistem usaha dan pasar yang lebih luas,” tutur Lenny.
Di panggung peragaan busana, kain tradisional Sumut—seperti ulos, songket, tenun, dan batik daerah—diolah menjadi busana siap pakai (ready-to-wear) modern melalui eksplorasi warna, motif, dan material. Langkah ini membuktikan bahwa kain etnik lokal tetap relevan dengan tren gaya hidup masa kini.
Melalui semangat KKSU 2026, yaitu “Dari Lokal ke Global” dan “Naik Kelas, Tembus Batas”, kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong karya-karya Sumut tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga berdaya saing di pasar internasional. (ANG)






