Di tahun 2024 ini, masyarakat masih kerap mengeluhkan harga sejumlah kebutuhan pangan yang mengalami kenaikan belakangan ini. Bahkan, sebagian dibanderol masih diatas harga keekonomiannya. Seperti harga beras yang masih bertahan dikisaran Rp13.000 hingga Rp15.000/kg. Cabai juga masih diatas harga keekonomian dikisaran Rp35.000 hingga Rp45.000/kg.
Kebutuhan pangan lainnya pun masih bertahan mahal dengan kecenderungan naik belakangan ini. Diiringi dengan pelemahan pada mata uang rupiah yang saat ini mendekati 16.000/dolar AS. Tingginya harga pangan belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari permasalahan struktural seperti gangguan ketersediaan pupuk, alih fungsi lahan, gangguan cuaca, inflasi yang menekan daya beli petani, kenaikan biaya input produksi produk makanan, hingga masalah rantai distribusi.
Dari sejumlah faktor yang memicu kenaikan harga pangan tersebut beberapa diantaranya sangat berkorelasi kuat dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Mulai dari pupuk, biaya input produksi industri hingga impor beras sebagai cadangan beras pemerintah (CBP). Dimana melemahnya mata uang rupiah akan mendorong kenaikan sejumlah kebutuhan pokok masyarakat.
Beras tentunya akan menjadi lebih mahal dengan pelemahan rupiah sekalipun harga beras di negara asal tidak mengalami perubahan. Harga daging ayam dan telur ayam berpeluang mengalami kenaikan, karena sejumlah biaya input produksi (impor) mengalami kenaikan seiring dengan pelemahan rupiah. Belum lagi harga mie instan, tepung yang bergantung pada gandum impor.
Dan banyak lagi komoditas lainnya yang akan naik seiring dengan ketergantungan impor bahan baku dan bahan pangan yang tinggi, diperburuk dengan melemahnya mata uang rupiah. Sejauh ini, mata uang rupiah memang masih berkonsolidasi atau masih sulit untuk naik diatas 16.000/dolar AS. Namun lambat laun, dampak dari pelemahannya akan memberikan tekanan kenaikan harga kebutuhan hidup masyarakat.
Karena banyak kebutuhan pokok masyarakat di tanah air, dimana rantai pasoknya masih membutuhkan sejumlah input bahan baku dari negara lain (impor). Dan seyogyanya pelemahan rupiah akan memicu terjadinya kenaikan pada komoditas pangan masyarakat. Sudah semestinya pemerintah memitigasi kemungkinan kenaikan arga kebutuhan masyarakat disaat rupiah melemah serperti saat ini. Karena pelemahan rupiah bisa memicu harg apangan bermasalah jika tidak diantisipasi dengan segera.
Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi dan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumatra Utara. Saat ini juga aktif mengajar di Fakultas Ekonomi UISU.






