Odeba.id, Medan – Mungkin dongeng sebelum tidur agak asing bagi anak-anak zaman sekarang yang telah mengenal betapa melenakannya bermain gadget. Padahal, banyak pesan yang hendak disampaikan melalui dongeng-dongeng pengantar tidur tersebut. Meski ada kebiasaan dongeng pengantar tidur tersebut, namun cerita-cerita yang banyak dikenal oleh anak-anak zaman kini adalah cerita-cerita luar yang sudah banyak diangkat dalam berbagai film fiksi.
Melansir dari laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, kekhawatiran-kekhawatiran itulah yang juga dirasakan oleh para pelestari kebudayaan di Tanah Batak. Padahal, di tanah Batak dikenal istilah marturi-turian, atau mendongeng yang juga merupakan salah satu tradisi lisan karena banyak mengangkat tentang legenda dan cerita-cerita tanah Batak yang syarat akan nilai.
“Mamak saya dulu suka kali mendongeng. Jadi sebelum kami tidur, langsung itu bercerita dongeng. Jadi cerita-cerita tentang Batak apa segala macam, walaupun tidak semendetail. Salah satu contoh cerita-cerita rakyat mengenai legenda-legenda asal mulanya Danau Toba dan yang kedua adalah legenda tentang Siboru Deak Parujar,” kata Bosco Antonius Marbun, salah satu pegiat budaya di Kabupaten Samosir.
Tidak adanya lembaga yang menangani secara serius (baik swadaya masyarakat maupun pemerintah) serta minimnya fasilitasi pemerintah dalam pemajuan objek tradisi lisan merupakan permasalah terhadap OPK tradisi yang harus ditemukan langkah-langkah solutif. Untuk itu, pemerintah daerah Kabupaten Samosir berupaya mendorong para pegiat budaya untuk membentuk komunitas maupun dewan kesenian untuk memastikan kelestarian objek tradisi.
“(Harapannya), melalui sanggar ini, melalui tim-tim dewan kesenian, semoga kedepannya nanti orang-orang tua juga memahami tentang tradisi-tradisi lisan itu menceritakan kepada anak cucunya kembali,” katanya.
Ia menambahkan, jarang ditemukan tentang legenda di Kabupaten Samosir ini. Harapannya, pemerintah membuat suatu festival dan lomba tentang cerita-cerita rakyat ataupun mendongeng di Kabupaten Samosir. “Kalau sampai sekarang bukunya belum ada. Semoga melalui dewan kesenian nanti, mereka mampu menyusun cerita-cerita tentang dongeng batak. Jadi perlu diingat bagaimana sejarah orang Batak,” tambah Bosco Antonius Marbun yang juga berkecimpung di Dewan Kesenian Kabupaten Samosir.
Sinergi antara para pegiat budaya dengan pemerintah daerah diharapkan bisa melestarikan dan memajukan kebudayaan di daerah Samosir. Selain dalam upaya memastikan kelestarian tradisi juga membangun kecintaan terhadap tradisi lisan, sehingga generasi muda sekarang tidak kehilangan jati dirinya.
Hal senada pun diungkapkan Tetty Naibaho, dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Samosir. Ia merasa khawatir akan kondisi saat ini, di mana orang tua sudah sangat jarang mendongeng, baik dalam Bahasa Batak maupun Bahasa Indonesia. “Nah artinya kalau ini kita tidak lestarikan dari sekarang melalui beberapa acara atau program di kabupaten ini (ataupun) melalui fasilitasi pemerintah, saya kira salah satu tradisi lisan (melalui) mendongeng itu akan hilang. Marturi turian akan hilang. Jadi kami pikir melalui kegiatan Pekan Kebudayaan Daerah kita akan melakukan lomba marturi-turian, lomba mendongeng,” kata Tetty. (ANG)






