ODEBA.id, Ogan Ilir – Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah V Palembang memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tingkat tapak menjelang puncak musim kemarau 2026. Langkah preventif ini mengacu pada arahan Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, yang menekankan pentingnya paradigma pencegahan dini (early prevention) dibandingkan penanggulangan pascakebakaran. Menhut menegaskan bahwa masyarakat di sekitar kawasan hutan dan ekosistem gambut merupakan benteng utama dalam menjaga kelestarian alam.
Karena itu, seluruh jajaran Kemenhut di daerah diperintahkan untuk terus turun ke lapangan, menyinergikan seluruh pemangku kepentingan—termasuk TNI, Polri, Pemda, dan pemegang izin—serta memberdayakan warga demi mencapai target Zero Karhutla.
Kepala BPHL Wilayah V Palembang, Tuti Alawiyah Lubis, menegaskan bahwa pencegahan Karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi erat seluruh pihak.
“Pencegahan adalah langkah paling efektif dalam pengendalian Karhutla, dan keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci utamanya. Lewat sosialisasi ini, kami ingin memperkuat pemahaman, meningkatkan kewaspadaan, serta membangun komitmen bersama agar kejadian Karhutla dapat dicegah sejak dini,” ujar Tuti, Sabtu (1/8/2026).
Tuti menambahkan, sinergi antara pemerintah daerah, BPHL Wilayah V, TNI-Polri, pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), dan masyarakat menjadi faktor vital dalam mewujudkan wilayah Ogan Ilir bebas dari Karhutla—khususnya di kawasan KHDTK Kebun Raya Sriwijaya yang bertanah gambut dan rawan terbakar.
Senada dengan hal tersebut, Kepala UPTD KPH Wilayah XII Benakat, Gustiar Sarip, mengajak masyarakat untuk aktif menjaga lingkungan dan tidak membakar lahan.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di sekitar kawasan hutan gambut, untuk tidak membakar lahan. Jika menemukan indikasi kebakaran, segera laporkan kepada aparat atau instansi terkait agar dapat ditangani dengan cepat. Pencegahan jauh lebih efektif dibanding penanggulangan,” tegas Gustiar.
Mengingat KHDTK Kebun Raya Sriwijaya didominasi oleh ekosistem gambut dengan tingkat kerawanan tinggi saat kemarau, pendekatan preventif melalui edukasi dan peningkatan kapasitas warga terus dijadikan prioritas utama. Lewat kolaborasi ini, Kemenhut berharap dapat menekan kemunculan titik panas (hotspot) di Kabupaten Ogan Ilir sekaligus mendukung terwujudnya kawasan yang lestari dan berkelanjutan. (ANG)






