ODEBA.id
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom
No Result
View All Result
ODEBA.id
Beranda Kolom

Beragama Berdampak

BY El Simamora
Rabu, 26 Februari 2025
in Kolom
Ilustrasi.

Ilustrasi. (Ist)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Dalam beberapa dekade terakhir, fenomena kesenjangan antara kehidupan umat dengan ajaran agama yang dianutnya semakin menguat. Setiap agama melarang korupsi, tapi praktik korupsi masih saja terjadi. Semua agama melarang kekerasan dan kebencian, dan kesewenang-wenangan, namun berbagai anomaly masih dijumpai di berbagai ruang kehidupan. “Agama harus berdampak dalam kehidupan umat, nilai-nilai moral agama menyatu dalam hidup pemeluk setiap agama, agama tidak boleh jauh dan berjarak dari pemeluknya, Beragama Berdampak”, (Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Menteri Agama).

Hasil dari berbagai survei, masyarakat Indonesia mengatakan agama berperan penting dan strategis dalam kehidupan masyarakat. Tetapi apakah agama sudah berdampak signifikan dalam kehidupan umat beragama? Dan apakah agama sudah berperan signifikan dalam pembangunan nasional?

BacaJuga

Bulan Rosario Umat Katolik: Paus Leo XIV Serukan Doa untuk Perdamaian

Guru, Mengajar (lah) dengan Cinta

Hari Bumi dan Harapan pada Ekoteologi

Data menyebut sekitar 1,1 miliar orang di dunia masih hidup dalam kemiskinan multidimensi, dengan lebih dari 500 juta di antaranya berada di Afrika Sub-Sahara saja. Pada 2030, hampir 600 juta orang (9,03%) masih akan hidup dalam kemiskinan ekstrem (BPS, Maret 2024). Dan isu tentang lingkungan global semakin berpotensi menimbulkan perubahan iklim yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati semakin mengancam bumi.

Berhadapan dengan berbagai krisis yang dialami oleh umat manusia di dunia, Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Imam Besar Istiqal, menegaskan peran agama sangat penting dalam hidup manusia. Maka, lembaga agama bersama Kementerian Agama harus berkontribusi penting dalam mewujudkan Agama yang berdampak bagi pemeluknya (agama maslahat) dan dalam pembangunan nasional. Nilai-nilai moral agama dapat menjadi tuntunan untuk membangun ketahanan di tengah masyarakat.

Agama Berdampak

Berbicara agama yang berdampak, ada tiga hipotesis yang bisa dikemukakan. Pertama, jika agama berdampak, berperan dalam proses membangun keadaban publik, maka dalam jangka panjang agama akan semakin memiliki legitimasi–karena memang punya peran, berdampak dalam pembangunan bangsa.

Kedua, jika sekelompok orang menganggap bahwa agama tidak berdampak dalam hidup di tengah masyarakat, sementara kita menganggap bahwa nilai-nilai etis-moral setiap agama merupakan nilai esensial dalam mengubah haluan sejarah kehidupan dan pembangunan di tanah air, maka agama akan kehilangan legitimasinya untuk berperan di dalam mewujudkan keadaban publik.

Ketiga, jika kita menganggap keikutsertaan agama di dalam mengubah haluan sejarah bangsa ini hanya bersifat mozaik dan samar-samar, tidak memberikan dampak yang mendasar, maka hubungan antara agama di satu pihak dan perubahan kehidupan kebangsaan di pihak lain merupakan hubungan insidental. Dengan demikian posisi agama dalam membangun keadaban publik masih harus diperjuangkan dampaknya, impelementasinya, dan posisi agama dalam pembangunan bangsa pada masa-masa yang akan datang masih akan terus diperdebatkan.

Bila kita jujur mengakui, salah satu penyebab hancurnya tatanan keadaban publik karena kurang signifikan peran agama sebagai agen perubahan moralitas di tengah masyarakat. Bangsa yang mengaku religius justru masyarakatnya masih hidup dalam kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan masih terjadi di mana-mana. Simbol agama ternyata belum menunjukkan tanda yang signifikan (signum significatum) dalam membawa pembaharuan sesuai dengan fungsinya. Maka peran agama, beragama berdampak kiranya penting ditegaskan kembali oleh Menteri Agama, bukan sekadar memberi format agama di ruang publik tetapi bagaimana menjadikan agama berdampak, mampu memberikan tuntunan, roh pembaharuan dalam membangun kehidupan yang rukun, damai, dan sejahtera.

Peran organisasi keagamaan dan Kementerian Agama menjadi penting dan strategis untuk mendekatkan jarak psikologis dan jarak sosial antara pemeluk agama, dan ajaran agama menjadi tolok ukur keberhasilan tugas Kementerian Agama (dan lembaga agama) yang amat substansial. “Semakin dekat umat dengan ajaran agamanya, itulah bukti suksesnya tugas Kementerian Agama. Makin jauh umat dari nilai dan moral agama, berarti tugas Kementerian Agama belum berhasil. Tantangan ini perlu disadari dan dijawab segenap jajaran Kementerian Agama di seluruh Indonesia. Semakin dekat umat dengan ajaran agamanya, maka dunia akan semakin damai dan rukun”, (Nasaruddin Umar, Hari Amal Bhakti ke-79, 3 Januari 2025).

Beragama berdampak (maslahat) merupakan cara beragama yang menghadirkan kebaikan bersama (common good, public interest). Salah satu bentuknya adalah mewujudkan nilai-nilai toleransi beragama yakni: pertama, cinta dan kasih sayang yang diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan, kesabaran, pengorbanan, tolong menolong, saling menghormati dan menghargai. Kedua, keterbukaan; memberikan ruang bagi keberagaman pandangan. Ketiga, persatuan; menyatukan perbedaan untuk mencapai tujuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat, kebebasan yang bertanggung jawab. Memiliki kebebasan berpikir, berpendapat, bersikap, berkeyakinan secara bertanggung jawab. Dan kelima, kerja sama; menjalin ukhuwah dan saling bekerja sama, tolong menolong dalam membangun kebaikan bersama.

Apa yang disampaikan Menteri Agama, sejalan dengan pemikiran Clifford Geertz, (1973), Antropolog Amerika Serikat, dalam studinya tentang agama memperkenalkan dua konsep penting untuk penelitian sosiologi agama. Kedua konsep dinamakannya the force of religion, mendalamnya tingkat internalisasi nilai dan ajaran agama dalam diri penganutnya, dan the scope of religion berupa luasnya konteks sosial di mana agama dianggap relevan dan penting. Konsep pertama menunjuk hubungan suatu agama dengan penganutnya, sedangkan konsep kedua menunjuk hubungan agama dengan seluruh konteks sosial politik yang meliputi semua orang. Agama memberikan “kerangka makna” pada dunia dan perilaku manusia dalam memahami dunia sekitarnya, termasuk kematiannya (Weber, 1917-1918).

Berkembangnya pandangan hubungan antara nilai-nilai agama dengan masalah-masalah yang menyangkut kemaslahatan umum, seperti ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, maka sosiolog seperti Robert Bellah (1950), melihatnya dalam perspektif civil religion. Dalam nada yang sama, Jose Casanova (1994) melihatnya dalam peran penting agama dalam kehidupan sosial-politik di Spanyol, Polandia, Barazil, dan Amerika Serikat. Bellah, Durkheim, dan Parsons, berpendapat bahwa agama menjalankan fungsi penting bagi masyarakat menjalankan fungsi-fungsi fundamental untuk mengintegrasikan manusia ke dalam konsensus nilai, mensosialisasikan manusia ke dalam nilai-nilai bersama yang dapat membangun sebuah ketahanan dalam masyarakat. Agama memberikan jawaban atas persaoalan hidup yang dialami manusia dan memberikan harapan akan kehidupan keimanan. Karenanya, agama harus berdampak, memainkan perannya dalam kehidupan globalisasi. Agama jangan sampai berada di pinggiran dalam proses globalisasi, apalagi tercabut dari konteks sosial-budaya, ekonomi, dan politik di mana ia tumbuh dan berkembang.

Dalam konteks inilah Menteri Agama Nasaruddin Umar mengharapkan Kementerian Agama yang dipimpin beliau dapat menjadi garda terdepan dalam mentransformasikan kehidupan baru di Indonesia mewujudkan peran nilai-nilai agama yang membumi, membawa agama tidak berjarak dengan umat di mana agama hadir karena adanya penghargaan orang terhadap nilai moral-spiritual di masyarakat. Kementerian Agama diharapkan dapat menjadi role model mewujudkan clean government, memberikan pengukuhan nilai-nilai bersumber pada kerangka acuan yang mempersatukan dalam bekerja yang bersifa sakral, bekerja sebagai ibadah.

Komitmen Kemanusiaan​​​​​​​

Hari Amal Bhakti ke-79 Kementerian Agama dengan tema: “Umat Rukun Menuju Indonesia Emas”, mengajak seluruh aparatur Kementerian Agama berkomitmen mendukung dan mengimplementasikan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, antara lain: memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia, memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mewujudkan masyarakat yang rukun, adil, dan makmur sebagai kunci pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong peran Kementerian Agama dalam kampanye penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya sejalan dengan Asta Cita Prabowo-Gibran dan Deklarasi Istiqal. Peran agama yang berdampak sangat dibutuhkan dalam kampanye pencegahan kerusakan alam, masalah perdagangan manusia (human trafficking), pencegahan kerusakan iklim (Forum Conference of The Parties (COP) ke-28, 2023, Abu Dhabi, COP ke-29, 2024 di Azerbaijan, Deklarasi Istiqal yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Istiqal, 5 September 2024). Dan peran para pemuka agama dari berbagai agama mempunyai komitmen kuat untuk menegakkan keadilan, mewujudkan kerukunan, memberantas korupsi. Di sinilah mulai terjadi dialog karya antaragama. Penderitaan dan kesengsaraan kelompok masyarakat yang miskin, krisis kemanusiaan, kerusakan lingkungan yang mengkhawatirkan, menjadi sumber pemersatu para pemuka agama dan para penganut agama bersikap mewujudkan beragama berdampak, bertindak profetik, dan perannya bisa dilaksanakan secara efektif untuk menentukan pilihan etis bagi pembangunan ketahanan bangsa.

Beragama berdampak manakala pesan dan misi kenabian yang diangkat dari kehadiran agama di tengah dunia. Dan yang terjadi bukan sekadar orientasi atau toleransi yang positif dari kerukunan, melainkan mobilisasi komitmen perikemanusiaan yang sekaligus berdimensi transendental. Peran sejarah agama-agama: membimbing perjalanan umat, seraya menghadirkan roh dan spiritualitas kehidupan yang mengisnpirasi. Hal yang direngkuh adalah seluruh umat manusia, oleh karena itu peran transendental agama juga bermakna melampaui kelompok serta denominasi, di samping makna mengatasi wujud pembangunan (kekinian dan keduniawian) agar terwujud keadaban kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai wujud “politik emansipatoris”, beragama berdampak dalam menghapuskan eksploitasi, diskriminasi, dan penindasan (Anthony Giddens, 1992).

Dr. Salman Habeahan, S.Ag., M.M, Direktur Pendidikan Katolik Kemenag, Dosen Pascasarjana Univ. Budi Luhur Jakarta. Sumber: Kemenag.

Next Post
Perdagangan Saham

Perang Dagang Memburuk, Rupiah dan IHSG Terpuruk Bersamaan

ArtikelPopuler

  • Nathan Tjoe-A-On

    Profil dan Perjalanan Karir Pemain Keturunan Indonesia Nathan Tjoe-A-On

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SAG-AFTRA Ratifikasi Kontrak Lindungi Hak Pengisi Suara AI

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menilik Falsafah Dalihan Na Tolu, Kultur Sosial Suku Batak

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hindari Konflik Meluas di Timur Tengah, Paus Serukan Cegah Eskalasi

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orang Batak Sejatinya Tak Mengenal Jual-Beli Tanah, Apalagi Makelar

    1 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pengendalian karhutla terus diperkuat.

437 Hotspot Terdeteksi, Kalteng Catat Jumlah Titik Panas Tertinggi

Sabtu, 10 Oktober 2026
Ilustrasi.

Kawal Deadline Sertifikasi Halal 2026, Ombudsman Buka Aduan Daring

Sabtu, 10 Oktober 2026
Whoosh.

Gangguan Layang-layang Turun 65%, KCIC: Jalur Whoosh Makin Safe

Sabtu, 10 Oktober 2026
idntt rilis lagu orisinal berbahasa Spanyol bertajuk 'Linda Mia'.

Lebarkan Sayap ke Musik Latin, idntt Unjuk Warna Baru Lewat Single Linda Mia

Sabtu, 10 Oktober 2026
ODEBA STK AND MB

Ikuti Kami

  • Tentang
  • Redaksi
  • Kolomnis
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pernyataan Penyangkalan

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba

No Result
View All Result
  • Home
  • Medan
  • Sumut
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Ragam
  • Hiburan
  • Sosok
  • TRAVEL BUDAYA
  • Sua Odeba
    • Puisi
    • Cerpen
    • Sua Sastra
  • Kolom

© 2024 Odeba  - Jelajah Baru, Jelajah Odeba by PT Sadana Rap Odeba