ODEBA.id, Medan – IHSG kembali menunjukan kinerja yang berlawanan arah dengan mayoritas bursa saham di Asia pada umumnya. Mayoritas bursa saham di Asia melemah, namun IHSG mampu konsisten di zona hijau dan ditutup menguat 1,56% di level 6.186,363. IHSG bahkan ditutup di level tertingginya, ditopang oleh penguatan sejumlah emiten seperti BBCA, BBRI, BMRI, BUMI hingga TLKM.
Selain bergerak anomali dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di Asia pada umumnya. Kinerja IHSG juga berbeda arah dengan mata uang rupiah yang ditutup melemah. Setelah sempat terpuruk hingga ke level 18.100, rupiah berbalik arah dan mengurangi kerugian di level 18.075 pada sesi penutupan.
“Kinerja rupiah masih dihantui oleh ekspektasi kenaikan bunga acuan The Fed, setelah Bank Sentral AS mempertahankan besaran bunga acuannya,” kata analis pasar keuangan, Gunawan Benjamin, Kamis (30/7/2026).
Tekanan pada pasar keuangan domestik juga sangat dirasakan seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan timur tengah. Harga minyak mentah yang bertahan dikisaran harga US$89.8 per barel menunjukkan bahwa pasar masih mengkuatirkan perkembangan di selat hormuz. Belakangan ini eskalasi konflik di kawasan tersebut kembali memburuk.
Potensi tekanannya juga berpeluang meluas ke harga komoditas lainnya. Sejauh ini harga emas masih bertahan dikisaran harga US$4.081 per troy ons, atau sekitar Rp2,38 juta per gram. Harga emas masih bergerak stabil ditengah kemungkinan adanya potensi tekanan baru jika perang terus berlanjut. Kekuatiran pasar saat ini lebih terfokus pada jalur distribusi dibandingkan dengan perang itu sendiri.
“Hanya saja disaat situasi perang kian memanas, potensi penurunan jalur distribusi di Selat Hormuz maupun di Laut Merah akan ditransmisikan pada kenaikan harga komoditas dan gangguan pasar keuangan. Walaupun pada dasarnya pihak yangh terlibat sudah bisa beradaptasi, namun setiap ancaman dari eskalasi konflik yang meningkat tetap akan menjadi sentimen negatif pasar,” kata Gunawan. (ANG)






