ODEBA.id, Jakarta – Upaya pelestarian kain tradisional ulos tidak boleh sekadar berhenti pada menjaga keberadaannya, melainkan harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi para perajin dan penenunnya, terutama kaum perempuan. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji, saat membuka Pameran Tenun Ulos di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (13/10/2026).
“Kita tidak cukup hanya menjaga agar ulos tetap ada, tetapi juga harus memastikan agar ulos tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya,” ujar Sarmuji.
Ia menilai kaum perempuan memegang peran sentral dalam menjaga tradisi menenun. Selain melestarikan budaya, aktivitas menenun terbukti menggerakkan perekonomian keluarga dan daerah. “Ulos bukan sekadar kain atau produk budaya, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas, tradisi, dan penghidupan masyarakat Batak. Di setiap lembar ulos tersimpan ketekunan, keterampilan, serta nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Sarmuji.
Pameran bertema “Menenun Harapan, Merajut Kemandirian” ini berlangsung pada 13-15 Oktober 2026 atas kerja sama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan Forum Konferensi Perempuan Huria Kristen Batak Protestan (FKP-HKBP). Sebanyak 50 industri kecil dan menengah (IKM) serta UMKM unggulan menghadirkan beragam produk, mulai dari kain ulos, busana siap pakai (ready-to-wear), tas kulit, aksesori, hingga kuliner khas Batak.
Diversifikasi dan Potensi Pasar Ulos
Saat ini, ulos telah bertransformasi menjadi pelbagai produk fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata. Perkembangan ini menunjukkan ulos makin diterima masyarakat luas, tidak hanya oleh komunitas masyarakat Batak, tetapi juga pasar nasional dan internasional.
Potensi itu tercermin dari kinerja ekspor tenun ikat Indonesia. Data Kemenperin mencatat nilai ekspor tenun ikat pada Semester I-2026 mencapai US$34.000, melonjak 150% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (US$13.600). Adapun sepanjang 2025, total nilai ekspor tenun ikat tercatat sebesar US$88.000.
Dari sisi basis produksi, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 mencatat terdapat 43 sentra tenun ulos di Sumatera Utara, meliputi wilayah Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun. Potensi ini dinilai menjadi modal kuat bagi IKM tenun ulos untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Tantangan Regenerasi dan Perlindungan Geografis
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, mengakui bahwa industri tenun tradisional masih melintasi sejumlah tantangan fundamental, seperti keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, inovasi desain, dan peningkatan mutu produk.
“Kemenperin berkomitmen penuh memperkuat ekosistem industri ulos melalui penguatan SDM dan kewirausahaan lewat pelatihan, seminar web (webinar), bincang-bincang (talkshow), serta penumbuhan wirausaha baru IKM,” terang Reni.
Sebagai langkah perlindungan atas kekhasan daerah, pemerintah juga telah memfasilitasi pendaftaran sertifikat Indikasi Geografis (IG). Salah satu produk yang telah bersertifikat IG adalah Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Kabupaten Tapanuli Utara.
“Penyelenggaraan pameran ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap tenun ulos, memperluas akses pasar bagi IKM, sekaligus memperkuat daya saing ulos sebagai mahakarya kebanggaan bangsa,” kata Reni. (ANG)






